Kisah Murka Prabu Siliwangi dan Moksanya yang Penuh Misteri
Selasa, 09 April 2024 - 07:44 WIB
loading...
A
A
A
Tetapi konon kemudian ada yang turun dari langit bernama Perwatalitali Barat yang berbunyi "Sanget-sangete gene ngampahi, dika arep papa iku, kula ora ngarti pisan, apa gawe milu ing agama bosok, bedah bolong agama Islam, tur kenang lara pati. Mungta iku pusaka kuna, ingkang nami Hyang Sadabu Cenggi, boten wonten gawe-nipun, pan ya iki gawenira, ing karyane Hyang Sadabu Cenggi iku, nyata sang ratu sigra, ngalap kang Sadabu Cenggi."
Dimana artinya, sangat mustahil melakukan niatmu itu, aku sangat tak mengerti untuk apa kalian mengikuti agama busuk itu, yang akan menyebabkan kalian terkena penyakit dan mati. Karena hanya satu pusaka lama yang harus diikuti yaitu yang bernama Hyang Sadabu Cenggi. Tidak ada faedahnya kalian mengikuti agama baru itu, lebih baik kalian mengikuti langkahnya Hyang Sadabu.
Mendengar hal itu Prabu Siliwangi pun berubah pikiran. Ia memutuskan untuk mengikuti Hyang Sadabu Cenggi, dengan membisikan Aji Pameradan bersama sanak keluarganya. Rencana pun disusun dan diumumkan pada malam Kamis untuk dilaksanakan pada keesokan harinya.
Pada malam Jumat rombongan raja Pajajaran lalu naik ke atas gunung, gemuruh suaranya oleh sambutan para bidadari. Para Dewata serta bidadari konon mengikuti upacara Payung Agung itu dengan diiringi umbul-umbul yang terbuat dari kulit monyet dan lutung.
Sambutan meriah terjadi dengan bau-bauan yang harum semerbak. Rombongan Prabu Pajajaran naik ke langit, semuanya terbang mencapai langit yang terbuka dan kemudian hilanglah Prabu Pajajaran beserta semua pengikutnya. Peristiwa ini konon dipercaya menjadi momen moksanya Prabu Siliwangi.
Dimana artinya, sangat mustahil melakukan niatmu itu, aku sangat tak mengerti untuk apa kalian mengikuti agama busuk itu, yang akan menyebabkan kalian terkena penyakit dan mati. Karena hanya satu pusaka lama yang harus diikuti yaitu yang bernama Hyang Sadabu Cenggi. Tidak ada faedahnya kalian mengikuti agama baru itu, lebih baik kalian mengikuti langkahnya Hyang Sadabu.
Mendengar hal itu Prabu Siliwangi pun berubah pikiran. Ia memutuskan untuk mengikuti Hyang Sadabu Cenggi, dengan membisikan Aji Pameradan bersama sanak keluarganya. Rencana pun disusun dan diumumkan pada malam Kamis untuk dilaksanakan pada keesokan harinya.
Pada malam Jumat rombongan raja Pajajaran lalu naik ke atas gunung, gemuruh suaranya oleh sambutan para bidadari. Para Dewata serta bidadari konon mengikuti upacara Payung Agung itu dengan diiringi umbul-umbul yang terbuat dari kulit monyet dan lutung.
Sambutan meriah terjadi dengan bau-bauan yang harum semerbak. Rombongan Prabu Pajajaran naik ke langit, semuanya terbang mencapai langit yang terbuka dan kemudian hilanglah Prabu Pajajaran beserta semua pengikutnya. Peristiwa ini konon dipercaya menjadi momen moksanya Prabu Siliwangi.
(hri)
Lihat Juga :