Sambut 75 Tahun RI Merdeka, Bunga Rampai Angkat Kuliner Rakyat ke Level Global
Minggu, 16 Agustus 2020 - 22:07 WIB
loading...
A
A
A
Pada 2019 di New York, dalam pertemuan delegasi sejumlah negara untuk bidang keamanan PBB, sebagian dari mereka menggunakan kemeja batik Indonesia. Baju atas batik, tapi celana dan sepatu dipadu dengan karya negara lain. Sejak 2019, UNESCO sudah menetapkan batik Indonesia sebagai “masterpiece oral and tangible heritage of humanity".
Pada 2018 di Korea Selatan, seorang profesor musik di Seoul Institute of Art, Lee Jung Pyo, menyanyikan lagu Bengawan Solo. Ia mengiringi lagu itu dengan alat tradisional Korea, Gayageum, sejenis kecapi. Dalam hitungan hari, video Bengawan Solo oleh Lee Jung Pyo itu viral di dunia maya hingga ditonton 230 ribu kali. (Baca juga: Langgar Prosedur, Ahli Epidemiologi UI Ragukan Obat COVID-19 Unair)
Selain itu, di Belanda pada 2018, tepatnya di Teater Muziek & DansSchool, Amsterdam, publik di sana dibuat terpana mendengar alunan gamelan Jawa. Alat tradisional Indonesia dengan suara merdu para pesinden, dikawinkan dengan bunyi Saxophone. "Itu semua produk lokal Indonesia yang dikawinkan dengan elemen internasional. Kini inovasi juga terjadi di dunia kuliner," tuturnya.
Denny membayangkan jika Resto Bunga Rampai kembali diundang menyediakan makanan bagi World Economic Forum di Davos, Swiss. "Sungguh seru jika di sela- sela percakapan krisis ekonomi dan cara memperbaikinya, para pemimpin dunia itu menikmati rujak beubek, cendol duren dan kopyor nangka dalam bentuk gelato. Denny JA mengaku bangga, istrinya, Mulia Jayaputri, memiliki dan mengelola Resto Bunga Rampai itu.
Pada 2018 di Korea Selatan, seorang profesor musik di Seoul Institute of Art, Lee Jung Pyo, menyanyikan lagu Bengawan Solo. Ia mengiringi lagu itu dengan alat tradisional Korea, Gayageum, sejenis kecapi. Dalam hitungan hari, video Bengawan Solo oleh Lee Jung Pyo itu viral di dunia maya hingga ditonton 230 ribu kali. (Baca juga: Langgar Prosedur, Ahli Epidemiologi UI Ragukan Obat COVID-19 Unair)
Selain itu, di Belanda pada 2018, tepatnya di Teater Muziek & DansSchool, Amsterdam, publik di sana dibuat terpana mendengar alunan gamelan Jawa. Alat tradisional Indonesia dengan suara merdu para pesinden, dikawinkan dengan bunyi Saxophone. "Itu semua produk lokal Indonesia yang dikawinkan dengan elemen internasional. Kini inovasi juga terjadi di dunia kuliner," tuturnya.
Denny membayangkan jika Resto Bunga Rampai kembali diundang menyediakan makanan bagi World Economic Forum di Davos, Swiss. "Sungguh seru jika di sela- sela percakapan krisis ekonomi dan cara memperbaikinya, para pemimpin dunia itu menikmati rujak beubek, cendol duren dan kopyor nangka dalam bentuk gelato. Denny JA mengaku bangga, istrinya, Mulia Jayaputri, memiliki dan mengelola Resto Bunga Rampai itu.
(thm)
Lihat Juga :