300 Anggota ISHARI NU dan Aktivis Kebudayaan Ikuti Literasi Digital di Tulungagung
Rabu, 31 Januari 2024 - 07:51 WIB
loading...
Sebanyak 300 anggota ISHARI NU dan aktivis kebudayaan mengikuti dialog literasi digital yang digelar di GOR Balai Desa Karangsono, Ngunut, Tulungagung, Jatim. Foto/Ist
A
A
A
TULUNGAGUNG - Sebanyak 300 anggota Ikatan Seni Hadrah Indonesia Nahdlatul Ulama (ISHARI NU) dan aktivis kebudayaan mengikuti dialog literasi digital yang digelar di GOR Balai Desa Karangsono, Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur.
Dialog yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) ini untuk memperkuat literasi digital kelompok masyarakat sipil jelang Pemilu 2024. Sehingga diharapkan bisa kritis dan waspada terhadap praktik kejahatan di dunia digital, dan memahami etika bermedia sosial.
Baca juga: Jejak Perempuan dalam Gerakan Literasi Digital
“Literasi digital membantu meredam potensi konflik dengan membantu masyarakat mengidentifikasi dan menanggapi informasi provokatif,” kata praktisi literasi digital dari Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU), Abdul Rahman selaku pemateri dialog di Tulungagung ini, dikutip Rabu (31/1/2024).
Abdul menambahkan bahwa pemahaman literasi digital yang baik memungkinkan komunikasi efektif, mengurangi potensi konflik, dan menciptakan suasana damai saat Pemilu 2024. Sehingga kesadaran masyarakat mengenai penggunaan teknologi komunikasi juga harus ditingkatkan.
Selain itu, Abdul juga menjelaskan, literasi digital dapat membantu masyarakat dalam memahami dan memilih kandidat dengan lebih cerdas.
“Literasi digital memungkinkan masyarakat untuk melakukan penelusuran informasi yang lebih mendalam mengenai rekam jejak dan program kandidat. Ini membantu mereka membuat keputusan yang lebih cerdas dan berdasarkan fakta.” jelasnya.
Dialog yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) ini untuk memperkuat literasi digital kelompok masyarakat sipil jelang Pemilu 2024. Sehingga diharapkan bisa kritis dan waspada terhadap praktik kejahatan di dunia digital, dan memahami etika bermedia sosial.
Baca juga: Jejak Perempuan dalam Gerakan Literasi Digital
“Literasi digital membantu meredam potensi konflik dengan membantu masyarakat mengidentifikasi dan menanggapi informasi provokatif,” kata praktisi literasi digital dari Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU), Abdul Rahman selaku pemateri dialog di Tulungagung ini, dikutip Rabu (31/1/2024).
Abdul menambahkan bahwa pemahaman literasi digital yang baik memungkinkan komunikasi efektif, mengurangi potensi konflik, dan menciptakan suasana damai saat Pemilu 2024. Sehingga kesadaran masyarakat mengenai penggunaan teknologi komunikasi juga harus ditingkatkan.
Selain itu, Abdul juga menjelaskan, literasi digital dapat membantu masyarakat dalam memahami dan memilih kandidat dengan lebih cerdas.
“Literasi digital memungkinkan masyarakat untuk melakukan penelusuran informasi yang lebih mendalam mengenai rekam jejak dan program kandidat. Ini membantu mereka membuat keputusan yang lebih cerdas dan berdasarkan fakta.” jelasnya.
Lihat Juga :