Inovasi Baru, Warga NTT Tak Lagi Bergantung ke Pengepul Pakan Ternak Berkat Teknologi Tepat Guna
Sabtu, 09 Desember 2023 - 22:48 WIB
loading...
A
A
A
Gabriel menjelaskan, mayoritas masyarakat Genamere bekerja sebagai petani jagung dan peternak babi. Pada beberapa musim terakhir, mereka mengalami kesulitan pakan ternak karena harganya mahal dan pasokannya tidak stabil.
"Kami biasanya mendapatkan pakan babi dari pengepul. Harganya mahal dan tidak selalu ada. Akibatnya ternak kami tidak bisa berkembang secara optimal," katanya.
Baca juga: ITS Buat Pakan Ternak dari Fermentasi Limbah Pertanian
Selama ini warga Desa Genamere menerapkan pola berternak tradisional. Mereka memberi makan hewan ternaknya dengan rebusan singkong, talas, dan jagung.
Terkadang mereka juga terpaksa memberi makan babi dengan rumput, kacang-kacangan, dan buah alakadarnya jika kehabisan pakan.
"Warga tidak pernah mempertimbangkan nilai gizi yang dibutuhkan babi. Yang penting babinya hidup, bisa dijual. Kalau lagi tidak ada talas, singkong, dan jagung, kita cari kacang-kacangan yang dicampur dengan rumput. Babi ini kan pemakan segalanya. Semua masuk," tutur Gabriel.
"Kami biasanya mendapatkan pakan babi dari pengepul. Harganya mahal dan tidak selalu ada. Akibatnya ternak kami tidak bisa berkembang secara optimal," katanya.
Baca juga: ITS Buat Pakan Ternak dari Fermentasi Limbah Pertanian
Selama ini warga Desa Genamere menerapkan pola berternak tradisional. Mereka memberi makan hewan ternaknya dengan rebusan singkong, talas, dan jagung.
Terkadang mereka juga terpaksa memberi makan babi dengan rumput, kacang-kacangan, dan buah alakadarnya jika kehabisan pakan.
"Warga tidak pernah mempertimbangkan nilai gizi yang dibutuhkan babi. Yang penting babinya hidup, bisa dijual. Kalau lagi tidak ada talas, singkong, dan jagung, kita cari kacang-kacangan yang dicampur dengan rumput. Babi ini kan pemakan segalanya. Semua masuk," tutur Gabriel.
Lihat Juga :