Momen Bung Tomo Bikin Terpojok Tentara Inggris usai Penyerbuan Penjara Kalisosok
Jum'at, 10 November 2023 - 07:22 WIB
loading...
Bung Tomo atau yang bernama asli Sutomo memiliki peran penting dalam pertempuran 10 November 1945 Surabaya. Foto/Istimewa
A
A
A
SURABAYA - Suhu keamanan di Surabaya meningkat usai kedatangan kembali tentara Inggris dan sekutunya. Mereka tiba di Surabaya sebulan usai proklamasi kemerdekaan dengan utusan bernama Laksamana Pertama Paterson, yang notabene Pimpinan Angkatan Laut Sekutu di Asia Tenggara.
Gelombang pertama tentara sekutu tiba dipimpin Kolonel P.J.G Huijer perwira berkebangsaan Belanda yang datang di Surabaya pertama kali pada tanggal 23 September. Tak berselang lama setelah tentara Inggris mendarat, dua perwira staf Mallaby menemui Gubernur Soerjo.
Dua orang perwira staf Mallaby bermaksud untuk mengajak Gubernur Soerjo dan seorang wakil BKR untuk berunding dengan Mallaby. Tetapi undangan itu ditolak oleh Gubernur Soerjo dengan alasan ia harus memimpin rapat.
Baca Juga: Jejak Pahlawan Bung Tomo di Malang, dari Usaha Percetakan hingga Rumah Mewah Jalan Ijen
Hal itu sebagaimana dinukil dari buku “Bung Tomo Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November,” karya Abdul Waid.
Tetapi kemudian Gubernur Soerjo memutuskan untuk mengirim Moestopo pimpinan Badan Keamanan Rakyat (BKR) untuk berunding dengan pihak Inggris, dan bertindak atas nama pemerintah Jawa Timur.
Gelombang pertama tentara sekutu tiba dipimpin Kolonel P.J.G Huijer perwira berkebangsaan Belanda yang datang di Surabaya pertama kali pada tanggal 23 September. Tak berselang lama setelah tentara Inggris mendarat, dua perwira staf Mallaby menemui Gubernur Soerjo.
Dua orang perwira staf Mallaby bermaksud untuk mengajak Gubernur Soerjo dan seorang wakil BKR untuk berunding dengan Mallaby. Tetapi undangan itu ditolak oleh Gubernur Soerjo dengan alasan ia harus memimpin rapat.
Baca Juga: Jejak Pahlawan Bung Tomo di Malang, dari Usaha Percetakan hingga Rumah Mewah Jalan Ijen
Hal itu sebagaimana dinukil dari buku “Bung Tomo Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November,” karya Abdul Waid.
Tetapi kemudian Gubernur Soerjo memutuskan untuk mengirim Moestopo pimpinan Badan Keamanan Rakyat (BKR) untuk berunding dengan pihak Inggris, dan bertindak atas nama pemerintah Jawa Timur.
Lihat Juga :