alexa snippet

12 Sastrawan, Individu, dan Komunitas Raih Hadiah Sastra Rancage

12 Sastrawan, Individu, dan Komunitas Raih Hadiah Sastra Rancage
Para peraih penghargaan Hadiah Sastra Rancage di Gedung Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut, Kota Bandung, Sabtu (9/9/2017). Foto/KORAN SINDO/Agus Warsudi
A+ A-
BANDUNG - Yayasan Kebudayaan Rancage menganugerahkan Hadiah Sastra Rancage 2017 kepada 12 sastrawan, penulis, individu, dan komunitas se-Indonesia yang dinilai berjasa melestarikan bahasa dan sastra daerah.

Penyerahan Hadiah Sastra Rancage 2017 yang tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-28 itu berlangsung di Gedung Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut Nomor 2, Kota Bandung, Sabtu (9/9/2017). Hadir dalam acara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar) Deddy Mizwar, Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajib Rosidi, Ketua Dewan Kebudayaan Jabar (DKJ) Ganjar Kurnia, dan seluruh penerima hadiah Rancage. Kepada masing-masing pemenang, Yayasan Kebudayaan Rancage memberikan piagam dan uang sebesar Rp5 juta.

Ajib Rosidi mengatakan, untuk kategori karya sastra Sunda, hadiah diberikan kepada Aam Amalia dengan karya kumpulan cerpen berjudul Di antara Tilu Jaman (terbitan Adicikal Raharja Bandung 2016). Sementara Hadiah Sastra Sunda kategori jasa diraih Komunitas Ngejah dari Sukawangi, Singajaya, Kabupaten Garut.

Kategori sastra Jawa diberikan kepada Moh Syaiful dengan karya Agul-agul Belambangan (terbitan Sengker Kawung Belambangan, Banyuwangi 2016). Sementara kategori jasa dalam sastra Jawa diraih Abdullah Purwodarsono yang telah puluhan tahun terlibat proses penerbitan sastra Jawa yang dimuat di mingguan Djaka Lodang di Yogyakarta.

Selanjutnya, Hadiah Sastra Rancage 2017 untuk kategori sastra Bali diberikan kepada Dewa Ayu Carma Citrawati dengan karya kumpulan cerpen Kutang Sayang Gemel Madui terbitan Pustaka Ekspresi Denpasar 2016. Untuk kategori jasa sastra Bali diraih oleh I Putu Supartika. Sebab, sejak usia muda, I Putu Supartika telah memberikan sumbangan kepada pelestarian sastra Bali modern lewat dua jalur, yakni penciptaan dan penerbitan jurnal elektronik.

Hadiah untuk ketegori karya sastra Lampung diberikan kepada Udo Z Karzi dengan karya roman berjudul Negarabatin terbitan Pustaka LaBRAK Bandar Lampung (2016). Udo Z Karzi merupakan nama pena dari Zulkarnain Zubairi yang produktif menulis cerpen, artikel, sajak, puisi, dan roman dalam bahasa Lampung.

Untuk karya sastra Batak, Yayasan Kebudayaan Rancage memberikan Hadiah Sastra Rancage kepada Tansiswo Palambok Pusupusu Siagian dengan karya kumpulan cerpen berjudul Sonduk Hela (terbitan SPT Jakarta 2016). Sementara kategori jasa dalam sastra Batak, hadiah diberikan kepada Grup Tortor Sangombas, lembaga kelompok penulis yang aktif berkarya dan berdiskusi di media sosial Facebook sejak 2012. Mereka dinilai berjasa menghidupkan kembali sastra dalam bahasa Batak.

“Tahun ini, Yayasan Kebudayaan Rancage juga memberikan hadiah khusus kepada penulis yang melahirkan karya dalam bahasa Batak walaupun bukan bahasa ibu bagi si penulis. Penghargaan ini diberikan kepada Bupati Serdangbedagai Soekirman Ompu Abimanyu dengan karya cerpen berjudul Parlombu-lombu (Si Gembala Sapi),” kata Ajip.

Yayasan Kebudayaan Rancage, ujar Ajip, memberikan hadiah untuk kategori sastra bahasa Banjar (Banjarmasin, Kalimantan Selatan) kepada Jamal T Suryanata dengan karya roman Pembatangan. “Hadiah juga diberikan untuk kategori bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda kepada Darpan dengan karya Nala,” ujar Ajip.

Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar mengatakan, Pemprov Jabar menaruh harapan sangat besar kepada para budayawan, sastrawan, dan komunitas masyarakat yang memiliki perhatian serta kepedulian terhadap pelestarian, eksistensi bahasa, dan sastra daerah. Karena itu, Pemprov Jabar sangat mengapresiasi konsistensi Yayasan Kebudayaan Rancage dalam menjaga bahasa dan sastra daerah di Indonesia.

“Seperti diketahui, gempuran budaya asing yang sangat deras. Sebagian bahasa daerah di Indonesia sudah punah. Bahkan generasi muda saat ini malu menggunakan bahasa ibu mereka. Untuk itu, butuh sinergitas seluruh elemen masyarakat, terutama budayawan dan sastrawan dalam melestarikan dan menjaga eksistensi agar bahasa daerah yang masih ada tidak punah,” kata Deddy.
(mcm)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top