Cornelis Lay, Sosok Dosen Bersahaja yang Tak Silau Kekuasaan
Rabu, 05 Agustus 2020 - 10:37 WIB
loading...
A
A
A
"Salah satu tesisnya , tentang intelektual jalan ketiga saya kira menjadi model baru bagaimana para intelektual memposisikan dihadapan kekuasaan," ungkapnya.
Dalam naskah pidato pengukuhan Guru Besar, Cony menyebutkan peran yang seharusnya juga diambil oleh para intelektual. Intelektual menurutnya harus berpikir bebas dan bertindak bijak bagi kepentingan kemanusiaan.
"Ini yang harus digarisbawahi karena banyak intelektual yang terjangkiti sindrom superioritas. Mereka secara keliru mengira dirinya unggul secara intelektual dan moral di hadapan kekuasaan," tandasnya.(Baca juga : UGM Tambah Guru Besar Bidang Ilmu Teknik Nuklir )
Bagi Nurul, sosok Cornelys Lay juga merupakan intelektual nasionalis yang sudah teruji idealismenya. "Ia tidak silau dengan kekuasaan meski peluang dan kesempatan terbuka lebar karena dia sangat dekat dengan orang - orang dilingkaran pusat kekuasaan, . Selamat Jalan Guru Politik Indonesia," pungkasnya.
Dalam naskah pidato pengukuhan Guru Besar, Cony menyebutkan peran yang seharusnya juga diambil oleh para intelektual. Intelektual menurutnya harus berpikir bebas dan bertindak bijak bagi kepentingan kemanusiaan.
"Ini yang harus digarisbawahi karena banyak intelektual yang terjangkiti sindrom superioritas. Mereka secara keliru mengira dirinya unggul secara intelektual dan moral di hadapan kekuasaan," tandasnya.(Baca juga : UGM Tambah Guru Besar Bidang Ilmu Teknik Nuklir )
Bagi Nurul, sosok Cornelys Lay juga merupakan intelektual nasionalis yang sudah teruji idealismenya. "Ia tidak silau dengan kekuasaan meski peluang dan kesempatan terbuka lebar karena dia sangat dekat dengan orang - orang dilingkaran pusat kekuasaan, . Selamat Jalan Guru Politik Indonesia," pungkasnya.
(nun)
Lihat Juga :