Cornelis Lay, Sosok Dosen Bersahaja yang Tak Silau Kekuasaan

loading...
Cornelis Lay, Sosok Dosen Bersahaja yang Tak Silau Kekuasaan
Dosen Fisipol UGM Cornelis Lay tutup usia. FOTO: fisipol.ugm.ac.id
A+ A-
YOGYAKARTA - Segenap civitas akademika UGM Yogyakarta kehilangan guru besar di bidang politik. Cornelis Lay meninggalkan banyak rekaman terutama bagai gerakan mahasiswa sejak Orde Baru hingga tumbangnya rezim yang sudah 32 tahun berkuasa tersebut

Sosiolog UGM Arie Sujito mengungkapkan, Dosen Fisipol UGM ini adalah sosok guru dan kolega yang bersahaja. Sejak dirinya menjadi aktivis gerakan mahasiswa, Cony (sapaan akrabnya) memberikan support banyak hal.

Perhatian pada gerakan mahasiswa kala itu, dengan memberikan input data, membuka jaringan, bahkan mau memberikan uang pada para aktivis mahasiswa yang mengalami kesulitan.

"Setelah saya jadi dosen beliau juga menjadi kolega yang mau diajak berdiskusi tentang situasi politik terkini dengan bumbu-bumbu humor. Perjuangannya luar biasa," ungkapnya kepada SindoNews Rabu (5/8/2020).

Ari pun menyatakan banyak gagasan cerdas yang diberikan seorang Cornelis Lay. Komitmen pada nasionalisme serta kemanusiaan menjadi hal yang krusial dan penting untuk arah bangsa.



Bahkan di saat sakit, Cony masih sangat produktif hingga gelar profesor diraih dalam keadaan sakit. "Semoga warisan pemikiran dan karya akademik dan sosial bermakna buat generasi berikutnya. Semoga damai di sisi-Nya," ucapnya.(Baca juga : Cornelis Lay, Guru Besar UGM Tutup Usia di RS Panti Rapih Yogyakarta)

Sementara itu Analis Politik Indo Strategy Arif Nurul Imam mengungkapkan Cornelis Lay merupakan intelektual yang menjadi salah satu rujukan dalam khasanah diskursus sosial politik. Pikiran dan tindakannya banyak memberi kontribusi dalam penguatan demokrasi.

"Salah satu tesisnya , tentang intelektual jalan ketiga saya kira menjadi model baru bagaimana para intelektual memposisikan dihadapan kekuasaan," ungkapnya.

Dalam naskah pidato pengukuhan Guru Besar, Cony menyebutkan peran yang seharusnya juga diambil oleh para intelektual. Intelektual menurutnya harus berpikir bebas dan bertindak bijak bagi kepentingan kemanusiaan.

"Ini yang harus digarisbawahi karena banyak intelektual yang terjangkiti sindrom superioritas. Mereka secara keliru mengira dirinya unggul secara intelektual dan moral di hadapan kekuasaan," tandasnya.(Baca juga : UGM Tambah Guru Besar Bidang Ilmu Teknik Nuklir)



Bagi Nurul, sosok Cornelys Lay juga merupakan intelektual nasionalis yang sudah teruji idealismenya. "Ia tidak silau dengan kekuasaan meski peluang dan kesempatan terbuka lebar karena dia sangat dekat dengan orang - orang dilingkaran pusat kekuasaan, . Selamat Jalan Guru Politik Indonesia," pungkasnya.
(nun)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top