alexa snippet

Pelukis Tunadaksa Sabar Subadri: Kekurangan Bukan Hambatan untuk Berkarya

Pelukis Tunadaksa Sabar Subadri: Kekurangan Bukan Hambatan untuk Berkarya
Pelukis tunadaksa Sabar Subadri saat melukis Gedung Papak, Pemkot Salatiga bersama beberapa pelukis lainnya, Rabu (19/7/2017). Foto/SINDOnews/Angga Rosa
A+ A-
SALATIGA - Sabar Subadri (38), warga Klaseman, Sidomukti, Kota Salatiga, sudah menderita cacat fisik sejak lahir. Namun, keterbatasan fisik itu tidak menjadikan penghalang untuk berkarya dalam dunia seni, khususnya seni lukis. Semangat dan jiwa seni yang dimilikinya mampu mengantarkan dirinya menjadi seniman besar.

Lukisan bergaya natural realisnya juga dikagumi banyak pencinta lukisan. Apresiasi para pencinta lukisan tersebut disampaikan kepada pelukis difabel kelahiran 1979 itu pada setiap kegiatan yang digelarnya secara individu maupun bersama anggota Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA). Tak jarang, para pencinta lukisan yang mengunjungi kediamannya sekadar untuk mengucapkan kekagumannya terhadap sosok Sabar Subadri dan lukisannya.

Ditemui saat berada di halaman Pemkot Salatiga, Rabu (19/7/2017), Sabar Subadri menuturkan dirinya mulai belajar melukis dengan kaki sejak usia 10 tahun. Saat itu, dirinya belajar melukis sendiri dengan segala kekurangan. Selang beberapa waktu kemudian, baru belajar melukis di bawah bimbingan pelukis kawakan Amir Rachmad. Semenjak itu, dirinya mulai terampil melukis dengan kaki.

"Kekurangan bukan hambatan. Jika kita memiliki niat yang kuat dan mau tekun berlatih, maka apa yang kita cita-citakan akan tercapai," katanya.

Sabar mengaku bangga memiliki mahaguru yang baik itu. Karena selain melatih teknis melukis, Amir Rachmad juga seorang motivator yang bisa menumbuhkan semangat hidup dan memberikan dorongan untuk hidup mandiri.

"Dari situ, saya termotivasi untuk mewujudkan impian menjadi seniman yang tidak hanya bisa melukis, melainkan bisa menjaga kelestarian dan keindahan lingkungan tempat saya tinggal," ucapnya.

Seiring perjalanan waktu, perjuangan Sabar membuahkan hasil. Dia berhasil menjadi pelukis ternama setelah lukisannya dikenal banyak orang. Bahkan, namanya mulai mendunia setelah menjadi anggota AMFPA. Mulai saat itu, dirinya bertambah semangat untuk membuat karya yang bisa dinikmati para pecinta lukisan.

"Setelah menjadi anggota AMFPA saya bertambah semangat untuk terus berkarya dan menciptakan lukisan yang terbaik. Semenjak itu, saya juga mulai memberanikan diri untuk menggelar kegiatan atau pameran. Ternyata kegiatan yang saya lakukan bisa diterima oleh para seniman dan pencinta lukisan," ujarnya.

Menurut Sabar, dirinya akan tetap terus melukis. Ini dilakukan untuk menunjukkan kepada para penyandang disabilitas lainnya bahwa keterbatasan fisik yang dimiliki bukan hambatan untuk berkarya atau hidup mandiri.

"Ini akan saya tanamkan kepada para penyandang cacat lainnya. Saya mendapat dukungan dari anggota AMFPA untuk mengadakan kegiatan dengan tujuan memberikan motivasi kepada sesama saudara-saudara kita para penyandang cacat. Penyandang cacat tidak harus tenggelam oleh kekurangan fisik, namun dari kekurangan ini mari kita berkarya untuk bisa dinikmati sesama."

Dia berharap, para penyandang disabilitas di Indonesia bisa berkarya dan meninggalkan ketergantungan kepada orang lain. Sebab tak selamanya orang lain bisa membantu diri kita. "Karena itu, mari kita berkarya dengan segala kemampuan yang kita miliki. Jadikan hidup ini lebih berguna dan bermanfaat bagi orang lain," tandasnya.



(zik)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top