Cerita Kesombongan Kiai Mojo Bikin Pasukan Pangeran Diponegoro Kalah dari Belanda
Jum'at, 29 September 2023 - 06:19 WIB
loading...
Lukisan mengisahkan Pangeran Diponegoro ditangkap pasukan Belanda. Foto/Istimewa
A
A
A
Permasalahan Pangeran Diponegoro dengan Kiai Mojo menyebabkan pasukannya kalah melawan Belanda. Pangeran Diponegoro juga konon dibuat emosi oleh ulah Kiai Mojo yang sombong. Tak ayal pasukan Pangeran Diponegoro pergerakannya pun terhambat.
Salah satu pertempuran yang gagal dimenangi Pangeran Diponegoro imbas perselisihan kedua pemimpin Perang Jawa ini, saat Pangeran Diponegoro menyerang basis pasukan penjajah di Gawok, pada 15 Oktober 1826.
Saat itu di ujung Agustus 1826, ketika sebagian daerah asalnya Pajang sudah berada di bawah kontrol pangeran, Kiai Mojo mulai mendorong - dorong agar segera dilakukan serangan besar-besaran ke Surakarta.
Baca Juga: Cerita Tunggul Ametung Murka dengan Ken Dedes dan Hancurkan Padepokan Mpu Purwa
Peter Carey dalam bukunya “Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 – 1855” mengisahkan bagaimana Kiai Mojo melihat semua ini disebabkan pengaruh pribadinya.
Sambil sesumbar bahwa generasi para pangeran terdahulu di Surakarta belajar di bawah bimbingan ayahnya Kiai Baderan, dan sekarang anak-anak mereka adalah murid-muridnya.
Ia juga mengecilkan peran pangeran di Surakarta, dengan mengatakan bahwa Keraton Sunan tak lagi bersimpati pada Pangeran Diponegoro. Hal ini memicu sikap Pangeran Diponegoro yang kian jengkel kepada Kiai Mojo yang dianggapnya sombong.
Salah satu pertempuran yang gagal dimenangi Pangeran Diponegoro imbas perselisihan kedua pemimpin Perang Jawa ini, saat Pangeran Diponegoro menyerang basis pasukan penjajah di Gawok, pada 15 Oktober 1826.
Saat itu di ujung Agustus 1826, ketika sebagian daerah asalnya Pajang sudah berada di bawah kontrol pangeran, Kiai Mojo mulai mendorong - dorong agar segera dilakukan serangan besar-besaran ke Surakarta.
Baca Juga: Cerita Tunggul Ametung Murka dengan Ken Dedes dan Hancurkan Padepokan Mpu Purwa
Peter Carey dalam bukunya “Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 – 1855” mengisahkan bagaimana Kiai Mojo melihat semua ini disebabkan pengaruh pribadinya.
Sambil sesumbar bahwa generasi para pangeran terdahulu di Surakarta belajar di bawah bimbingan ayahnya Kiai Baderan, dan sekarang anak-anak mereka adalah murid-muridnya.
Ia juga mengecilkan peran pangeran di Surakarta, dengan mengatakan bahwa Keraton Sunan tak lagi bersimpati pada Pangeran Diponegoro. Hal ini memicu sikap Pangeran Diponegoro yang kian jengkel kepada Kiai Mojo yang dianggapnya sombong.
Lihat Juga :