Fakta-fakta Museum Nasional, dari Sebuah Rumah Kini Menyimpan 140.000 Benda Bernilai Sejarah

Minggu, 17 September 2023 - 06:24 WIB
loading...
A A A
Pada tahun 1752 telah terbentuk perkumpulan ilmiah Belanda bernama De Hollandsche Maatschappij der Wetenschappen. Hal ini kemudian mendorong Pemerintah Belanda di Batavia mendirikan organisasi seruoa yang diberi nama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG).

Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG) didirikan untuk tujuan memajukan penetitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi, sejarah, serta menerbitkan hash penelitian.

2. Dari Rumah hingga Kompleks Sekretariat Negara

Salah seorang pendiri Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen bernama JCM Radermacher, awalnya menyumbangkan rumah miliknya di Jalan Kalibesar, dimana pada masa itu merupakan kawasan perdagangan penting di Batavia. Radermacher kemudian menyumbangkan koleksinya berupa benda-benda budaya dan buku-buku. Sumbangan Radermacher inilah yang menjadi cikal-bakal berdirinya museum dan perpustakaan.

Dalam perkembangannya, rumah milik Radermacher di Jalan Kalibesar ini ternyata penuh dengan berbagai koleksi barang-barang. Pada masa pemerintahan Inggris di Jawa tahun 1811-1816, Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles kemudian memerintahkan pembangunan gedung baru untuk digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk Literary Society. Bangunan ini berlokasi di Jalan Majapahit atau sekarang Kompleks Sekretariat Negara di dekat Istana Kepresidenan.

3. Pernah JadiMarkas Kenpetai di Masa Pendudukan Jepang

Jumlah koleksi milik BG ternyata terus meningkat. Pada akhirnya museum di Jalan Majapahit juga tidak dapat lagi menampung koleksinya. Pada tahun 1862 Pemerintah Hindia Belanda memutuskan membangun gedung museum baru yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Barat atau dulu bernama Koningsplein West. Di atas lahan Jalan Merdeka Barat saat itu juga dibangun Gedung Rechst Hogeschool (Sekolah Tinggi Hukum). Sekolah ini pernah dipakai untuk markas Kenpetai di masa pendudukan Jepang atau Departemen Pertahanan dan Keamanan.

Museum ini mulai dibuka untuk umum pada tahun 1868. Museum ini sangat dikenal di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya penduduk Jakarta. Mereka menyebutnya “Gedung Gajah” atau “Museum Gajah” karena di halaman depan museum terdapat sebuah patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang pernah berkunjung ke museum pada tahun 1871. Kadang kala disebut juga “Gedung Arca” karena di dalam gedung memang banyak tersimpan berbagai jenis dan bentuk arca yang berasal dari berbagai periode.

Pada tahun 1923 perkumpulan ini memperoleh gelar Koninklijk karena jasanya dalam bidang ilmiah dan proyek pemerintah, sehingga lengkapnya menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Pada tanggal 26 Januari 1950, Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen diubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Perubahan ini disesuaikan dengan kondisi waktu itu.

4. Sempat Bernama Museum Pusat

Pada tanggal 17 September 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada Pemerintah Indonesia, yang kemudian menjadi Museum Pusat. Akhirnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nomor 092/ 0/1979 tertanggal 28 Mei 1979, Museum Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional.

Pada tanggal 22 Maret 2021, berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 117/KMK.05/2021, Museum Nasional ditetapkan sebagai instansi pemerintah pusat dengan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU) di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.”

5. Simpan 140.000 Benda dari 7 Jenis Koleksi

Museum Nasional dalam kaitannya dengan warisan budaya merupakan lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam, dan lingkungannya. Hal ini guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Time Magazine Nobatkan...
Time Magazine Nobatkan House of Tugu Jakarta World’s Greatest Places 2026
Kenaikan Tiket Masuk...
Kenaikan Tiket Masuk MNI Menurunkan Kepercayaan Publik ke Pengelola
Buka Festival Benteng...
Buka Festival Benteng Victoria 2025, Wamendagri Ingatkan Simbol Peradaban
Rekomendasi
Tembus Blokade Laut...
Tembus Blokade Laut Merah, Tanker Raksasa China Bawa Pulang 4 Juta Barel Minyak Arab Saudi
Eks Jampidsus Febrie...
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Belum Selesai Diperiksa, 2 Mobil Tahanan Siaga di Kejagung
Proses Pemeliharaan...
Proses Pemeliharaan dan Pengisian Galon Bermerek Dipastikan Penuhi Standar Industri
Berita Terkini
Suami Istri Pemilik...
Suami Istri Pemilik Hanania Travel Ditetapkan Jadi Tersangka Penipuan Jemaah Umrah
Wali Kota Semarang:...
Wali Kota Semarang: Butuh Komitmen Bersama dalam Pemberantasan Korupsi
Kasus Debt Collector...
Kasus Debt Collector dan Nasabah Digerebek di Purworejo Berakhir Damai
Tidar Jakarta Barat...
Tidar Jakarta Barat Yakin Sudaryono Mampu Perkuat Tata Kelola Program MBG
Ketua HMI Merauke: PSN...
Ketua HMI Merauke: PSN Harus Tingkatkan Pendidikan dan Kesejahteraan Orang Asli Papua
Polisi Sudah Periksa...
Polisi Sudah Periksa 10 Saksi di Kasus Dugaan Penghinaan Profesi Wartawan oleh Hotman Paris
Infografis
Sejarah Boikot Olahraga...
Sejarah Boikot Olahraga Dunia dan Ancaman Jerman Mundur dari Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved