Soroti Kualitas Udara Jakarta, Politisi Golkar Ini Siap Perjuangkan Isu Lingkungan
Senin, 28 Agustus 2023 - 15:30 WIB
loading...
Politisi muda Golkar Dienis Haning Safitri pun menyoroti dampak kesehatan akibat menurunnya kualitas udara Jakarta. Foto/Dok. SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Berdasarkan indeks kualitas udara AQI, kualitas udara di Jakarta berada di angka 170 atau masuk dalam kategori tidak sehat. Politisi muda Partai Golkar Dienis Haning Safitri pun menyoroti dampak kesehatan dari menurunnya kualitas udara Jakarta.
Aktivis perempuan Karang Taruna Divisi Peranan Wanita dan Anak Jaksel ini menemukan beberapa anak di wilayah Jaksel mengalami gejala batuk, pilek, dan sakit tenggorokan yang intens. Kualitas udara di Jakarta turut memengaruhi menurunnya kesehatan anak, terutama pada kesehatan pernapasan.
“Di masyarakat, tidak sedikit ibu-ibu yang bercerita kepada saya mengenai kesehatan anak mereka yang menurun. Mudah lemas, batuk, pilek, dan sakit tenggorokan adalah gejala umum yang ditemui di masyarakat,” katanya dalam siaran pers, Senin (28/8/2023). Baca juga: Waspada! Polusi Udara Jakarta di Malam Hari Jauh Lebih Buruk
Dienis menemukan beberapa lokasi berada di angka yang sangat tidak sehat. Seperti Cilandak Timur dan Kebayoran Lama di angka indeks 206, Kemang V 163, Gordi HQ berada dengan angka indeks 162, dan Gelora Bung Karno di angka indeks 161.
Parameter kualitas udara berdasarkan AQI US dibagi enam level. Hijau (0-50) bagus, kuning (51-100) sedang, oranye (101-150) tidak sehat bagi kelompok sensitif, merah (151-200) tidak sehat, ungu (201-300) sangat tidak sehat, dan maroon (lebih dari 301) berbahaya.
Risiko Stunting
Buruknya kondisi udara tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan pernapasan anak, tetapi juga meningkatkan risiko stunting pada balita. Pegiat perempuan yang aktif membantu stunting warga ini juga menjelaskan, polusi udara dapat memengaruhi perkembangan anak. “Polusi udara juga berkaitan erat dengan stunting pada anak,” jelasnya.
Aktivis perempuan Karang Taruna Divisi Peranan Wanita dan Anak Jaksel ini menemukan beberapa anak di wilayah Jaksel mengalami gejala batuk, pilek, dan sakit tenggorokan yang intens. Kualitas udara di Jakarta turut memengaruhi menurunnya kesehatan anak, terutama pada kesehatan pernapasan.
“Di masyarakat, tidak sedikit ibu-ibu yang bercerita kepada saya mengenai kesehatan anak mereka yang menurun. Mudah lemas, batuk, pilek, dan sakit tenggorokan adalah gejala umum yang ditemui di masyarakat,” katanya dalam siaran pers, Senin (28/8/2023). Baca juga: Waspada! Polusi Udara Jakarta di Malam Hari Jauh Lebih Buruk
Dienis menemukan beberapa lokasi berada di angka yang sangat tidak sehat. Seperti Cilandak Timur dan Kebayoran Lama di angka indeks 206, Kemang V 163, Gordi HQ berada dengan angka indeks 162, dan Gelora Bung Karno di angka indeks 161.
Parameter kualitas udara berdasarkan AQI US dibagi enam level. Hijau (0-50) bagus, kuning (51-100) sedang, oranye (101-150) tidak sehat bagi kelompok sensitif, merah (151-200) tidak sehat, ungu (201-300) sangat tidak sehat, dan maroon (lebih dari 301) berbahaya.
Risiko Stunting
Buruknya kondisi udara tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan pernapasan anak, tetapi juga meningkatkan risiko stunting pada balita. Pegiat perempuan yang aktif membantu stunting warga ini juga menjelaskan, polusi udara dapat memengaruhi perkembangan anak. “Polusi udara juga berkaitan erat dengan stunting pada anak,” jelasnya.
Lihat Juga :