Kisah Arya Penangsang, Petaka Murid Sunan Kudus yang Tewas di Tangan Gagak Rimang

Selasa, 22 Agustus 2023 - 06:28 WIB
loading...
Kisah Arya Penangsang,...
Petaka kematian cicit Raden Patah, Arya Penangsang di tangan Gagak Rimang. Foto/Ilustrasi
A A A
Arya Penangsang, cicit Raden Patah pendiri sekaligus raja pertama kesultanan Demak tewas dengan cara yang mengerikan. Penangsang tewas setelah dipecundangi Danang Sutawijaya, Raja Mataram Islam dengan gelar Panembahan Senopati.

Sebelum terbunuh dengan usus terburai dalam pertempuran melawan utusan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, Arya Penangsang bertubi-tubi terjebak dalam amarahnya sendiri.

Adipati Jipang Panolan (sekarang Cepu Blora) Arya Penangsang merupakan cucu Sultan Trenggono, Raja Demak Bintoro (1504-1546) yang sepanjang hayatnya bertikai dengan Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang.

Baca Juga: Sejarah Singkat Tarumanegara, Asal Nama Kerajaan dari Tanaman Lebat di Sungai Citarum

Arya Penangsang merupakan putra Pangeran Seda Lepen, yakni putra kedua Sultan Trenggono yang terbunuh di pinggir sungai Cemara pada usia muda. Jaka Tingkir dicurigai terlibat dalam peristiwa itu.

Sebagai keturunan langsung penguasa Demak, Arya Penangsang tidak terima tahta Demak beralih ke Pajang. Hal itu mengingat status Hadiwijaya hanyalah menantu Trenggono.

Sikap membangkang Arya Penangsang membuat Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir terus memutar akal untuk menyingkirkannya. Hadiwijaya mengumpulkan seluruh adipati, senapati dan bupati.

Di depan para adipati, Sultan Hadiwijaya menyatakan menggelar sayembara, yakni barang siapa yang sanggup mengalahkan Arya Penangsang akan diberi hadiah tanah Mataram dan Pati.

Baca Juga: Kisah Mistis Kematian Raja Pajang karena Campur Tangan Jin Peliharaan Panembahan Senopati

“Pada saat itu ada dua tamtama, yakni Ki Penjawi dan Ki Pemanahan (Ki Ageng Pemanahan) yang sanggup dengan meminta syarat agar Ngabehi Loring Pasar (Danang Sutawijaya) diminta untuk ikut,” demikian yang dikutip dari buku Seks Para Pangeran, Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Penikmatan Hidup Jawa (2015).

Arya Penangsang memiliki watak agresif sekaligus mudah panas, di sisi lain juga berhasrat besar untuk menghabisi Hadiwijaya. Karena Hadiwijaya terkenal dengan kesaktiannya, muslihat pun diciptakan, yakni dengan mengundang hadir ke Kadipaten Jipang Panolan.

Sebuah kursi telah dipasang rajah pangapesan disiapkan untuk Hadiwijaya. Siapapun yang menduduki kursi itu, kesaktiannya akan rontok. Namun secara cerdik, Hadiwijaya mampu membuat kursi dengan rajah kesialan itu justru diduduki Arya Penangsang sendiri.

“Maka rajah yang dipasang justru senjata makan tuan”.

Baca Juga: Kisah Untung Surapati, Budak Pembantai Kapten VOC Belanda dengan Keris dan Tombak

Saat duduk berhadap-hadapan Arya Penangsang menyatakan meminjam keris Hadiwijaya dan oleh Hadiwijaya diulurkan. Oleh Arya Penangsang keris langsung dihunus.

“Apa ini sakti Kakanda?,” tanya Penangsang. Hadiwijaya yang duduk berhadap-hadapan menjawab dengan tenang. “O keris saya ada dua, ini keris Kiai Carubuk, sakti sekali,” jawab Hadiwijaya sembari menghunus keris yang dibicarakan.

Sunan Kudus yang melihat pemandangan itu, langsung bergegas keluar. Sunan Kudus merupakan guru Arya Penangsang. Ia memberi isyarat dengan berkata agar keris segera disarungkan saja. Yang jelek dibuang dan yang baik disimpan.

Dalam sejumlah sumber menyebut, isyarat menyarungkan adalah meminta Arya Penangsang segera menikamkan keris ke dada Sultan Pajang. Dalam logika perang, keris yang sudah dihunus harus segera disarungkan.

Dan yang dimaksud menyarungkan adalah menusuk dada lawan, bukan memasukkan ke dalam warangka. Arya Penangsang tidak menangkap isyarat itu. Keris disarungkan ke warangkanya.

Baca Juga: Kisah Sultan Agung Marah pada Imam Syafi'i Dibalik Pagebluk di Mekkah

Pertemuan dua orang yang saling bermusuhan itu tak menghasilkan apapun.

Sekembali Sultan Hadiwijaya ke Pajang, konflik semakin memanas. Dipimpin Ki Ageng Pemanahan, Ki Penjawi dan Danang Sutawijaya, pasukan Pajang menyerbu Kadipaten Jipang.

Penyerbuan sengaja dilakukan pada musim birahi kuda. Orang-orang Pajang tahu Arya Penangsang selalu menunggang kuda jantan warna putih bernama gagak rimang.

Sutawijaya yang disiapkan menghadapi Penangsang sengaja menunggang kuda betina. Tujuannya agar gagak rimang gelisah, mengejar kuda betina tunggangan Sutawijaya, sehingga tak terkendali.

“Dengan demikian Arya Penangsang tidak fokus dalam peperangan karena disibukkan oleh kuda jantan yang ditungganginya, yang sedang dalam puncak-puncak birahi”.

Baca Juga: Kisah Tragis Roro Jonggrang Terkena Kutukan Mati Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Muslihat orang-orang Pajang membuahkan hasil. Gagak rimang berlari tidak terkendali, mengejar kuda tunggangan Danang Sutawijaya. Pada saat itu lah tombak Kiai Plered di tangan Sutawijaya melesat mengenai lambung Penangsang.

Usus Arya Penangsang terburai. Usus yang kemudian disampirkan antara gagang dan pesi keris itu putus saat Arya Penangsang menghunus keris pusaka kiai Setan Kober. Arya Penangsang gugur seketika.

Sejarah mencatat, Adipati Jipang Panolan Arya Penangsang tewas di medan perang oleh keris pusakanya sendiri.

Untuk menghormati kegagahan Penangsang, dalam upacara tertentu orang Jawa menghiasi keris dengan untaian bunga melati sebagai lambang usus Arya Penangsang.
(ams)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Rektor UBK Dapat Gelar...
Rektor UBK Dapat Gelar Kehormatan Kanjeng Raden Mas Suryo dari Keraton Demak
3 Julukan Kota Kudus...
3 Julukan Kota Kudus Paling Populer, Diambil dari Bahasa Arab yang Kental Nilai Religi
Apakah Gus Baha Keturunan...
Apakah Gus Baha Keturunan Sunan Kudus?
Rekomendasi
Timnas Amerika Serikat...
Timnas Amerika Serikat Dapat Jalur Relatif Mudah ke Semifinal Piala Dunia 2026
Wujudkan Liburan Impian...
Wujudkan Liburan Impian Tanpa Beban dengan Cashback Rp350.000
Mau Nyaman Liburan ke...
Mau Nyaman Liburan ke Bali? Perhatikan Ini Sebelum Memilih Tour Wisata
Berita Terkini
Sambut 5 Abad Jakarta,...
Sambut 5 Abad Jakarta, Cibis Park Satukan Jazz Modern dan Betawi dalam Panggung Budaya Urban
Panji Bangsa Tegaskan...
Panji Bangsa Tegaskan Politik Kemanusiaan, Rayakan Harlah dengan Santuni Ratusan Yatim
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Mangrove di Kawasan Pesisir Jakarta Terus Diperkuat
Anggota Polri dan TNI...
Anggota Polri dan TNI Gugur saat Selamatkan Anak Tenggelam di Pantai Maluku Tenggara
7 Tahun Warga Mengungsi,...
7 Tahun Warga Mengungsi, Leri Gwijangge Desak Pemerintah Akhiri Krisis Kemanusiaan di Nduga
Pemprov DKI Jakarta...
Pemprov DKI Jakarta Bersama Ewindo Perkuat Pengembangan Pertanian Perkotaan
Infografis
Zion Suzuki, Tembok...
Zion Suzuki, Tembok Samurai Biru yang Bikin Belanda Frustrasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved