Refleksi Peristiwa Kudatuli, PDIP Surabaya Ajak Anak Muda Melek Sejarah
Senin, 27 Juli 2020 - 13:46 WIB
loading...
A
A
A
Penyerbuan kantor PDI itu merupakan puncak dari berbagai peristiwa yang mengguncang kemapanan Orde Baru, dimulai sejak Megawati terpilih sebagai Ketua Umum PDI dalam Kongres di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, pada 1993.
Pemerintahan Orde Baru tak merestui terpilihnya Megawati, sehingga rezim terus memecah belah PDI . Puncaknya, pemerintah merestui Soerjadi menggelar kongres "tandingan" PDI di Medan, Juni 1996. Soerjadi menjadi ketua umum PDI yang "direstui" pemerintah. "Soeharto tak ikhlas Megawati memimpin PDI . Peristiwa 27 Juli adalah upaya merebut kepemimpinan PDI dari Megawati," ujar Budiman.
Menurut Budiman, tragedi 27 Juli 1996 menjadi salah satu titik balik perlawanan rakyat dalam merebut demokrasi. "Tragedi itu bukan hanya wujud perlawanan PDI terhadap Orde Baru, tapi juga menandai gerakan rakyat bahwa demokrasi harus direbut bersama-sama," imbuh Budiman.
Sementara itu, jurnalis Frans Padak Demon mengisahkan pengalamannya meliput langsung tragedi tersebut. Saat itu, dia adalah wartawan TV Jepang, NHK. "Pagi betul, 27 Juli, saya main tenis di Cinere. Ada pesan lewat pager yang meminta dia meliput ke kantor PDI di Jalan Diponegoro. 'Frans segera ke kantor PDI , kantor diserang preman dan tentara' demikian pesan yang saya terima," ceritanya.
Tanpa ganti baju dan tanpa mandi, Frans bergegas menuju Jalan Diponegoro. Keringat masih membasahi tubuhnya. "Saya hanya pakai rompi khas wartawan TV," kata Frans.
Frans mencoba masuk ke kantor PDI , tapi dicegat tentara. Dia terus berjalan, dan kemudian bertemu salah seorang petugas media Istana. Frans bertanya, sejak kapan petugas itu berada tak jauh dari kantor PDI , yang kemudian dijawab, "Sejak malam". "Saya membatin, kalau sejak semalam, berarti sudah tahu dong mau ada serangan," ujar Frans.
Pemerintahan Orde Baru tak merestui terpilihnya Megawati, sehingga rezim terus memecah belah PDI . Puncaknya, pemerintah merestui Soerjadi menggelar kongres "tandingan" PDI di Medan, Juni 1996. Soerjadi menjadi ketua umum PDI yang "direstui" pemerintah. "Soeharto tak ikhlas Megawati memimpin PDI . Peristiwa 27 Juli adalah upaya merebut kepemimpinan PDI dari Megawati," ujar Budiman.
Menurut Budiman, tragedi 27 Juli 1996 menjadi salah satu titik balik perlawanan rakyat dalam merebut demokrasi. "Tragedi itu bukan hanya wujud perlawanan PDI terhadap Orde Baru, tapi juga menandai gerakan rakyat bahwa demokrasi harus direbut bersama-sama," imbuh Budiman.
Sementara itu, jurnalis Frans Padak Demon mengisahkan pengalamannya meliput langsung tragedi tersebut. Saat itu, dia adalah wartawan TV Jepang, NHK. "Pagi betul, 27 Juli, saya main tenis di Cinere. Ada pesan lewat pager yang meminta dia meliput ke kantor PDI di Jalan Diponegoro. 'Frans segera ke kantor PDI , kantor diserang preman dan tentara' demikian pesan yang saya terima," ceritanya.
Tanpa ganti baju dan tanpa mandi, Frans bergegas menuju Jalan Diponegoro. Keringat masih membasahi tubuhnya. "Saya hanya pakai rompi khas wartawan TV," kata Frans.
Frans mencoba masuk ke kantor PDI , tapi dicegat tentara. Dia terus berjalan, dan kemudian bertemu salah seorang petugas media Istana. Frans bertanya, sejak kapan petugas itu berada tak jauh dari kantor PDI , yang kemudian dijawab, "Sejak malam". "Saya membatin, kalau sejak semalam, berarti sudah tahu dong mau ada serangan," ujar Frans.
Lihat Juga :