Prevalensi Stunting 21 Persen, Ahli Unpad Sebut Telah Ada Sejak Zaman Nenek Moyang
Senin, 26 Juni 2023 - 18:27 WIB
loading...
Prevalensi stunting 21 persen, ahli Unpad sebut telah ada sejak nenek moyang.Foto/ilustrasi
A
A
A
BANDUNG - Pemerintah saat ini terus mengggenjot angka stunting yang majah cukup tinggi, di mana prevalensinya masih di atas 21 persen pada 2022. Kendati begitu, pakar dari Universitas Padjadjaran (Unpad) menyebut, kasus stunting telah ada sejak zaman nenek moyang.
Dosen Departemen Sejarah dan Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad) Elis Suryani Nani Sumarlina mengatakan, beberapa naskah Sunda, baik kuno (bihari) maupun peralihan/klasik (kamari), dan masa kini (kiwari) ada yang berkaitan dengan pengetahuan anti-stunting.
Salah satu naskah yang menjelaskan stunting adalah Sanghyang Titisjati Pralina. Elis menjelaskan, beberapa isi dari naskah ini adalah mengungkap cara perawatan, pemeliharaan, dan penanggulangan anak sejak dalam kandungan hingga remaja.
Baca juga: Puluhan Santri Keracunan Massal hingga Dirawat di Puskesmas dan RSUD Cikalongwetan
“Salah satunya agar kondisi di mana tinggi badan seorang ‘anak’ tidak pendek dibanding tinggi badan orang lain seusianya, dalam arti agar anak tidak gagal tumbuh kembang. Hal ini pun disebabkan oleh kurangnya asupan gizi yang diterima oleh janin/bayi dalam kandungan, hingga masa awal anak lahir,” kata Elis dalam rilis Unpad.
Dosen Departemen Sejarah dan Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad) Elis Suryani Nani Sumarlina mengatakan, beberapa naskah Sunda, baik kuno (bihari) maupun peralihan/klasik (kamari), dan masa kini (kiwari) ada yang berkaitan dengan pengetahuan anti-stunting.
Salah satu naskah yang menjelaskan stunting adalah Sanghyang Titisjati Pralina. Elis menjelaskan, beberapa isi dari naskah ini adalah mengungkap cara perawatan, pemeliharaan, dan penanggulangan anak sejak dalam kandungan hingga remaja.
Baca juga: Puluhan Santri Keracunan Massal hingga Dirawat di Puskesmas dan RSUD Cikalongwetan
“Salah satunya agar kondisi di mana tinggi badan seorang ‘anak’ tidak pendek dibanding tinggi badan orang lain seusianya, dalam arti agar anak tidak gagal tumbuh kembang. Hal ini pun disebabkan oleh kurangnya asupan gizi yang diterima oleh janin/bayi dalam kandungan, hingga masa awal anak lahir,” kata Elis dalam rilis Unpad.
Lihat Juga :