Depati Parbo, Pejuang Kemerdekaan dari Kerinci yang Jago Silat, Agama dan Kebatinan
Sabtu, 17 Juni 2023 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Di bawah tekanan mental serta dalih diajak untuk berunding serta untuk menghindari pertumpahan darah dikalangan rakyat tidak berdosa, akhirnya Depati Parbo bersedia turun gunung keluar hutan untuk melakukan perundingan.
Namun ternyata pihak Belanda dengan tipu muslihat dan otak liciknya memanfaatkan kondisi ini untuk menangkap Panglima Perang Depati Parbo. Sebenarnya Depati Parbo bersedia menemui Belanda bukan untuk menyerah,akan tetapi diajak berunding. Dia bersedia diajak berunding semata mata untuk menyelamatkan nyawa rakyat yang tidak berdosa yang disandera dan diancam serdadu Belanda.
Sebelumnya, beberapa kali Depati Parbo berhadapan dengan serdadu Belanda, akan tetapi selalu lolos dari upaya penangkapan, karena kepiwaian ilmu bela dirinya merupakan perisai yang menyelamatkan Depati Parbo dari serangan dan upaya penangkapan.
Dengan ditangkapnya Depati Parbo,secara perlahan perlawanan berangsur angsur redup, beberapa saat kemudin puluhan pejuang dan pemangku adat ditawan oleh Belanda,pada tahun 1903 secara bertahap serdadu Belanda ditarik mundur kembali ke kesatuan awal,dan sebahagian serdadu Belanda ditarik ke Jambi Berbagai siksaan dan tekanan telah diderita Depati Parbo sejak ditangkap Belanda.
Baca juga: Aipda Paimbonan Tewas dengan Luka Tembak, Ternyata Jabat Kanit Paminal dan Bendahara Koperasi
Namun kekuatan fisik dan spiritual Depati Parbo yang tangguh akhirnya menimbulkan rasa kagum bagi serdadu dan pejabat Belanda. Depati Parbo menjalani masa pembuangan atau pengasingan dan hukuman seumur hidup di Ternate, sebuah wilayah yang sangat sulit dijangkau dari pulau Sumatera saat itu.
Dalam pikiran Depati Parbo saat itu, walaupun dihukum dan dibuang seumur hidup namun tetap kukuh pada pendiriannya, yakin bahwa kehidupan itu sudah ada yang mengatur, Allah tidak pernah tidur dan pasti akan memberikan jalan terbaik bagi hamba-Nya yang beriman.
Setelah melewati perjalanan panjang dan melelahkan menyeberangi laut lepas dengan gelombang besar akhirnya Depati Parbo sampai di Ternate, selama 25 tahun Depati Parbo hidup dipengasingan, jauh dari kampung halaman dan sanak saudara serta teman sepejuangan di alam Kerinci.
Selama dalam masa pembuangan, Depati Parbo melewati hariĀhari sepinya dengan menekuni pengetahuan dan pemahaman terhadap ajaran agama Islam yang telah ia yakini kebenarannya. Dan karena wataknya yang suka menolong orang serta ilmu kebatinan yang ia miliki, membuat Depati Parbo disegani oleh sesama orang buangan maupun oleh serdadu dan pemerintah Belanda yang ada di Ternate.
Di pengasingan, Depati Parbo yang berisi ilmu, dikenal sebagai orang sebagai Tabib. Pada suatu hari salah seorang anak dari Asisten Residen Belanda di Ternate menderita Sakit.
Sebagai pejabat tinggi pemerintah Belanda, Asisten Residen telah berupaya mencari obat untuk anaknya itu, di samping upaya yang telah dilakukan beberapa orang Dokter, namun penyakit sang anak tak kunjung sembuh.
Namun ternyata pihak Belanda dengan tipu muslihat dan otak liciknya memanfaatkan kondisi ini untuk menangkap Panglima Perang Depati Parbo. Sebenarnya Depati Parbo bersedia menemui Belanda bukan untuk menyerah,akan tetapi diajak berunding. Dia bersedia diajak berunding semata mata untuk menyelamatkan nyawa rakyat yang tidak berdosa yang disandera dan diancam serdadu Belanda.
Sebelumnya, beberapa kali Depati Parbo berhadapan dengan serdadu Belanda, akan tetapi selalu lolos dari upaya penangkapan, karena kepiwaian ilmu bela dirinya merupakan perisai yang menyelamatkan Depati Parbo dari serangan dan upaya penangkapan.
Dengan ditangkapnya Depati Parbo,secara perlahan perlawanan berangsur angsur redup, beberapa saat kemudin puluhan pejuang dan pemangku adat ditawan oleh Belanda,pada tahun 1903 secara bertahap serdadu Belanda ditarik mundur kembali ke kesatuan awal,dan sebahagian serdadu Belanda ditarik ke Jambi Berbagai siksaan dan tekanan telah diderita Depati Parbo sejak ditangkap Belanda.
Baca juga: Aipda Paimbonan Tewas dengan Luka Tembak, Ternyata Jabat Kanit Paminal dan Bendahara Koperasi
Namun kekuatan fisik dan spiritual Depati Parbo yang tangguh akhirnya menimbulkan rasa kagum bagi serdadu dan pejabat Belanda. Depati Parbo menjalani masa pembuangan atau pengasingan dan hukuman seumur hidup di Ternate, sebuah wilayah yang sangat sulit dijangkau dari pulau Sumatera saat itu.
Dalam pikiran Depati Parbo saat itu, walaupun dihukum dan dibuang seumur hidup namun tetap kukuh pada pendiriannya, yakin bahwa kehidupan itu sudah ada yang mengatur, Allah tidak pernah tidur dan pasti akan memberikan jalan terbaik bagi hamba-Nya yang beriman.
Setelah melewati perjalanan panjang dan melelahkan menyeberangi laut lepas dengan gelombang besar akhirnya Depati Parbo sampai di Ternate, selama 25 tahun Depati Parbo hidup dipengasingan, jauh dari kampung halaman dan sanak saudara serta teman sepejuangan di alam Kerinci.
Selama dalam masa pembuangan, Depati Parbo melewati hariĀhari sepinya dengan menekuni pengetahuan dan pemahaman terhadap ajaran agama Islam yang telah ia yakini kebenarannya. Dan karena wataknya yang suka menolong orang serta ilmu kebatinan yang ia miliki, membuat Depati Parbo disegani oleh sesama orang buangan maupun oleh serdadu dan pemerintah Belanda yang ada di Ternate.
Di pengasingan, Depati Parbo yang berisi ilmu, dikenal sebagai orang sebagai Tabib. Pada suatu hari salah seorang anak dari Asisten Residen Belanda di Ternate menderita Sakit.
Sebagai pejabat tinggi pemerintah Belanda, Asisten Residen telah berupaya mencari obat untuk anaknya itu, di samping upaya yang telah dilakukan beberapa orang Dokter, namun penyakit sang anak tak kunjung sembuh.
Lihat Juga :