Kisah Sunan Gunung Jati dan Kesaktian Keris Sanghyang Naga
Sabtu, 20 Mei 2023 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Sesudah selesai berdoa baru kemudian perhatian Sinuhun Jati atau Sunan Gunung Jati beralih kepada Sanghyang Naga. Sinuhun memegang kepala sang ular dan ekonya, kemudian ditegakkan ke atas ke arah langit. Ular naga itu pun kemudian berubah menjadi sebilah keris yang diberi nama Keris Sanghyang Naga.
Sunan Gunung Jati akhirnya menyelesaikan tafakurnya selama tiga puluh hari menyepi di bulan Ramadhan. Selama itu walaupun berpuasa Sinuhun Purba tidak makan sahur dan juga tidak berbuka puasa. Kemudian Sinuhun Jati pulang kembali ke kraton di Pakungwati.
Keris Sanghyang Naga dikenakannya pada lebaran Idul Fitri. Sinuhun Jati minta Ki Bongkok untuk membuat sarungnya, membuat kerangka keris Sangyang Naga yang diselesaikan dalam semalam. Kerangka itu dibuat dari kayu khuldi, daunnya dari kayu yakin, sedangkan pegangannya terbuat dari kayu kemuning.
Jadi kerangka itu terbuat dari tiga macam kayu yang menjadi ciri dari keris tersebut. Itulah keramatnya wali yang mewujud berupa Keris Sanghyang Naga. Adapun Ki Bongkok itu ternama sebagai ahli Jaida. Ki Bongkok itu sebetulnya murid Aulia Syekh Benthong.
Dikisahkan Sunan Gunung Jati tengah duduk di Dalem Pakungwati, putranya Pangeran Pasarean datang menghadap disertai oleh istrinya Ratu Mas Dewi. Sang anak bertanya darimana Sunan Gunung Jati mendapat keris itu.
Sunan Gunung Jati lantas menjawab diperoleh ketika tengah beribadah di malam Lailatul Qadar. Sunan Gunung Jati bercerita bahwa ada ular naga yang datang kepadanya atas izin Allah. Kemudian Sunan Gunung Jati memegang ular naga itu dan berubah menjadi keris.
Sunan Gunung Jati berujar "Karena keris ini dengan kehendak Allah pasti akan menghilang kembali. Bilamana kelak tak mampu meminta sih-Nya Yang Maha Esa, maka pasti akan menderita anak- cucu di kemudian hari. Orang mudalah yang kelak akan meneruskan sejarah. sedangkan orang tua ini hanyalah yang membawa asal muasal. Dahulu waktu di Talaga aku telah menjadi takabur, pasti akan datang akibatnya di kemudian hari".
Sunan Gunung Jati akhirnya menyelesaikan tafakurnya selama tiga puluh hari menyepi di bulan Ramadhan. Selama itu walaupun berpuasa Sinuhun Purba tidak makan sahur dan juga tidak berbuka puasa. Kemudian Sinuhun Jati pulang kembali ke kraton di Pakungwati.
Keris Sanghyang Naga dikenakannya pada lebaran Idul Fitri. Sinuhun Jati minta Ki Bongkok untuk membuat sarungnya, membuat kerangka keris Sangyang Naga yang diselesaikan dalam semalam. Kerangka itu dibuat dari kayu khuldi, daunnya dari kayu yakin, sedangkan pegangannya terbuat dari kayu kemuning.
Jadi kerangka itu terbuat dari tiga macam kayu yang menjadi ciri dari keris tersebut. Itulah keramatnya wali yang mewujud berupa Keris Sanghyang Naga. Adapun Ki Bongkok itu ternama sebagai ahli Jaida. Ki Bongkok itu sebetulnya murid Aulia Syekh Benthong.
Dikisahkan Sunan Gunung Jati tengah duduk di Dalem Pakungwati, putranya Pangeran Pasarean datang menghadap disertai oleh istrinya Ratu Mas Dewi. Sang anak bertanya darimana Sunan Gunung Jati mendapat keris itu.
Sunan Gunung Jati lantas menjawab diperoleh ketika tengah beribadah di malam Lailatul Qadar. Sunan Gunung Jati bercerita bahwa ada ular naga yang datang kepadanya atas izin Allah. Kemudian Sunan Gunung Jati memegang ular naga itu dan berubah menjadi keris.
Sunan Gunung Jati berujar "Karena keris ini dengan kehendak Allah pasti akan menghilang kembali. Bilamana kelak tak mampu meminta sih-Nya Yang Maha Esa, maka pasti akan menderita anak- cucu di kemudian hari. Orang mudalah yang kelak akan meneruskan sejarah. sedangkan orang tua ini hanyalah yang membawa asal muasal. Dahulu waktu di Talaga aku telah menjadi takabur, pasti akan datang akibatnya di kemudian hari".
Lihat Juga :