Kampus UKI-Pena 98 Gelar Diskusi Refleksi 25 Tahun Reformasi
Sabtu, 13 Mei 2023 - 13:09 WIB
loading...
A
A
A
Baca: Peringati 25 Tahun Reformasi, Pena 98 Gelar Pameran Foto hingga Diskusi Publik di 20 Kota
“Perubahan yang terjadi dalam era reformasi memungkinkan kebebasan yang bersama kita rasakan saat ini. Jika dulu ada tiga partai, sekarang kita bisa melihat banyak partai, kebebasan pers, juga kesempatan untuk menjadi penjabat negara. Sehingga memungkinkan orang seperti Presiden Joko Widodo yang berasal dari keluarga yang bukan apa-apa, tapi bisa menjadi Presiden,” ujarnya.
Aktivis Forum Kota (Forkot) dr. Batara Imanuel Sirait mempunyai segudang cerita unik, khususnya bantuan medis dengan semangat solidaritas yang sangat tinggi. “25 tahun yang lalu, hampir tidak mungkin membuat acara diskusi seperti ini. Kumpul 3-5 orang saja, pasti ada tukang nasi goreng muncul di depan rumah. Semua kita merasakan gas air mata hingga pentungan PHH. Saat itu situasi tentu membuat takut. Namun kita lebih takut lagi jika negara kita hancur," ujarnya.
Sementara itu Komisioner Komnas HAM Suarlin Siagian, melihat bahwa mahasiswa punya posisi spesial dan terhormat, yang dilaksanakan dengan baik dalam aksi di 98. Namun sayangnya mendapat perlakuan yang tidak semestinya.
“Ini menimbulkan trauma tersendiri bagi para mahasiswa yang menjadi aktivis saat itu dan menjadi korban dari tindakan represif aparat. Tidak hanya mahasiswa yang korban, namun keluarga juga ikut merasakan. Sampai saat ini Presiden telah mengeluarkan satu inpres dan kepres untuk pemulihan terhadap keluarga korban. Itu berita baik untuk setidaknya mengobati para korban dan keluarga yang menderita secara psikologis, sosial dan ekonomi,” ucapnya.
“Perubahan yang terjadi dalam era reformasi memungkinkan kebebasan yang bersama kita rasakan saat ini. Jika dulu ada tiga partai, sekarang kita bisa melihat banyak partai, kebebasan pers, juga kesempatan untuk menjadi penjabat negara. Sehingga memungkinkan orang seperti Presiden Joko Widodo yang berasal dari keluarga yang bukan apa-apa, tapi bisa menjadi Presiden,” ujarnya.
Aktivis Forum Kota (Forkot) dr. Batara Imanuel Sirait mempunyai segudang cerita unik, khususnya bantuan medis dengan semangat solidaritas yang sangat tinggi. “25 tahun yang lalu, hampir tidak mungkin membuat acara diskusi seperti ini. Kumpul 3-5 orang saja, pasti ada tukang nasi goreng muncul di depan rumah. Semua kita merasakan gas air mata hingga pentungan PHH. Saat itu situasi tentu membuat takut. Namun kita lebih takut lagi jika negara kita hancur," ujarnya.
Sementara itu Komisioner Komnas HAM Suarlin Siagian, melihat bahwa mahasiswa punya posisi spesial dan terhormat, yang dilaksanakan dengan baik dalam aksi di 98. Namun sayangnya mendapat perlakuan yang tidak semestinya.
“Ini menimbulkan trauma tersendiri bagi para mahasiswa yang menjadi aktivis saat itu dan menjadi korban dari tindakan represif aparat. Tidak hanya mahasiswa yang korban, namun keluarga juga ikut merasakan. Sampai saat ini Presiden telah mengeluarkan satu inpres dan kepres untuk pemulihan terhadap keluarga korban. Itu berita baik untuk setidaknya mengobati para korban dan keluarga yang menderita secara psikologis, sosial dan ekonomi,” ucapnya.
(hab)
Lihat Juga :