Taiwan Tarik Indomie karena Terdeteksi Ada Kandungan Karsinogenik, Begini Penjelasan Ahli Gizi
Rabu, 03 Mei 2023 - 12:56 WIB
loading...
Departemen Kesehatan Taipei dan Kementrian Kesehatan Malaysia resmi menarik produk Indomie Rasa Ayam Spesial di negaranya. Hal itu disebabkan karena ditemukannya kandungan Etilen Oksida (EtO). Foto
A
A
A
SURABAYA - Departemen Kesehatan Taipei dan Kementrian Kesehatan Malaysia resmi menarik produk Indomie Rasa Ayam Spesial di negaranya. Hal itu disebabkan karena ditemukannya kandungan Etilen Oksida (EtO) yang berada di atas ambang batas Otoritas Badan Makanan dan Obat-obatan Taiwan (FDA). Kandungan itu dianggap mengandung zat pemicu kanker atau zat karsinogenik.
Ahli Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga Dominikus Raditya Atmaka SGz MPH menuturkan, EtO terdeteksi dalam bumbu mie instan tersebut. EtO sebenarnya adalah pestisida yang digunakan untuk membasmi mikroba penyebab penyakit tanaman dalam dunia pertanian. Baca juga: Mi Instan Indonesia Disebut Mengandung Zat Pemicu Kanker, Kemendag: Kita Cek Dulu
“EtO sendiri seharusnya tidak ada dalam makanan karena bukan merupakan bahan tambahan pangan. Yang seringkali terdeteksi adalah residu EtO non volatile,” katanya, Rabu (3/5/2023).
Ia menambahkan, bahwa yang sering terdeteksi ialah residu EtO non volatil yang masih menempel dalam bahan baku pembuatan produk. Biasanya bahan baku tersebut berasal dari pertanian seperti gandum yang menjadi bahan baku pembuatan tepung terigu.
Ia pun menilai kalau setiap negara memiliki regulasinya masing-masing terkait batas aman bahan makanan untuk setiap sajian. Hal ini tergantung akan tingkat kesehatan populasi dan jenis penyakit yang lazim ada dalam negara tersebut. Maka bisa saja kadar di Indonesia akan aman, namun tidak di negara lain.
Eropa misalnya, EtO yang diperbolehkan maksimal 0,1 mg/kg sedangkan di Indonesia masih belum terdapat regulasi yang pasti terkait EtO. Sama halnya dengan siklamat yang digunakan sebagai pemanis buatan, di Indonesia masih diperbolehkan digunakan sedangkan di Amerika sudah tidak karena tingginya kasus kerusakan organik.
Ahli Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga Dominikus Raditya Atmaka SGz MPH menuturkan, EtO terdeteksi dalam bumbu mie instan tersebut. EtO sebenarnya adalah pestisida yang digunakan untuk membasmi mikroba penyebab penyakit tanaman dalam dunia pertanian. Baca juga: Mi Instan Indonesia Disebut Mengandung Zat Pemicu Kanker, Kemendag: Kita Cek Dulu
“EtO sendiri seharusnya tidak ada dalam makanan karena bukan merupakan bahan tambahan pangan. Yang seringkali terdeteksi adalah residu EtO non volatile,” katanya, Rabu (3/5/2023).
Ia menambahkan, bahwa yang sering terdeteksi ialah residu EtO non volatil yang masih menempel dalam bahan baku pembuatan produk. Biasanya bahan baku tersebut berasal dari pertanian seperti gandum yang menjadi bahan baku pembuatan tepung terigu.
Ia pun menilai kalau setiap negara memiliki regulasinya masing-masing terkait batas aman bahan makanan untuk setiap sajian. Hal ini tergantung akan tingkat kesehatan populasi dan jenis penyakit yang lazim ada dalam negara tersebut. Maka bisa saja kadar di Indonesia akan aman, namun tidak di negara lain.
Eropa misalnya, EtO yang diperbolehkan maksimal 0,1 mg/kg sedangkan di Indonesia masih belum terdapat regulasi yang pasti terkait EtO. Sama halnya dengan siklamat yang digunakan sebagai pemanis buatan, di Indonesia masih diperbolehkan digunakan sedangkan di Amerika sudah tidak karena tingginya kasus kerusakan organik.
Lihat Juga :