Ridwan Kamil Minta Masyarakat Hadapi Pandemi COVID-19 Ibarat Perang
Selasa, 28 April 2020 - 23:15 WIB
loading...
A
A
A
Meski begitu, Kang Emil mengakui, penerimaan masyarakat terhadap penanganan COVID-19 berbeda-beda. Bagi mereka yang paham, mereka taat dan disiplin menerapkan social distancing. Namun, tidak sedikit juga yang masih menganggap pandemi ini bukan permasalahan serius.
![Ridwan Kamil Minta Masyarakat Hadapi Pandemi COVID-19 Ibarat Perang]()
Dia mencontohkan pemberlakuan penerapan sosial berskala besar (PSBB) yang diberlakukan di wilayah Bogor, Depok, dan Bekasi (Bodebek) dan Bandung Raya yang masih disikapi berbeda masyarakat. Buktinya, meski terjadi penurunan aktivitas masyarakat, namun persentasenya belum optimal.
"PSBB itu bisa dikatakan berhasil jika pergerakan (masyarakat) hanya 30%, sekarang masih 48%. Dalam eksperimen ini ada yang memahami, ada yang tidak. Jadi evaluasinya bagaimana 48% (pergerakan masyarakat) ini bisa turun jadi 30%," paparnya. (Baca juga; Wali Kota Bogor Bima Arya Bertugas Kembali, Langsung Inspeksi ke Plaza Dewi Sartika )
Dia menyebutkan, 30% pergerakan masyarakat tersebut adalah pergerakan masyarakat yang diperbolehkan sesuai aturan PSBB. Karena itu, Kang Emil kembali menekankan bahwa modal sosial berupa kedisiplinan masyarakat sebagai kunci sukses perang melawan COVID-19 di tengah keterbatasan yang dimiliki bangsa dan negara ini.
Sebagai negara berkembang, kata Kang Emil, modal sosial merupakan modal terbesar yang dimiliki bangsa Indonesia dalam perang melawan pandemi COVID-19 dengan cara memecah kerumunan, agar mata rantai persebaran COVID-19 dapat segera terputus. "Modal kita hanya modal sosial, disiplin. Kalau tidak begitu, kita mau pakai modal apa lagi?" tegasnya.

Dia mencontohkan pemberlakuan penerapan sosial berskala besar (PSBB) yang diberlakukan di wilayah Bogor, Depok, dan Bekasi (Bodebek) dan Bandung Raya yang masih disikapi berbeda masyarakat. Buktinya, meski terjadi penurunan aktivitas masyarakat, namun persentasenya belum optimal.
"PSBB itu bisa dikatakan berhasil jika pergerakan (masyarakat) hanya 30%, sekarang masih 48%. Dalam eksperimen ini ada yang memahami, ada yang tidak. Jadi evaluasinya bagaimana 48% (pergerakan masyarakat) ini bisa turun jadi 30%," paparnya. (Baca juga; Wali Kota Bogor Bima Arya Bertugas Kembali, Langsung Inspeksi ke Plaza Dewi Sartika )
Dia menyebutkan, 30% pergerakan masyarakat tersebut adalah pergerakan masyarakat yang diperbolehkan sesuai aturan PSBB. Karena itu, Kang Emil kembali menekankan bahwa modal sosial berupa kedisiplinan masyarakat sebagai kunci sukses perang melawan COVID-19 di tengah keterbatasan yang dimiliki bangsa dan negara ini.
Sebagai negara berkembang, kata Kang Emil, modal sosial merupakan modal terbesar yang dimiliki bangsa Indonesia dalam perang melawan pandemi COVID-19 dengan cara memecah kerumunan, agar mata rantai persebaran COVID-19 dapat segera terputus. "Modal kita hanya modal sosial, disiplin. Kalau tidak begitu, kita mau pakai modal apa lagi?" tegasnya.
(wib)
Lihat Juga :