Kayangan Api dan Pertapaan Pembuat Keris Kerajaan Majapahit
Sabtu, 15 April 2023 - 05:24 WIB
loading...
A
A
A
"Biasanyanya sih pengunjung paling banyak memang malak hari. Maka pada malam hari ini kami sengaja untuk berkunjung malam hari dan biar keliatan nature-nya yang ada di sini," ungkap Anna.
Sementara itu, Djarot yang datang dari Jakarta mengaku merasakan wisata spiritual yang luar biasa ketika memberanikan diri menyeberangi Kayangan Api yang membakar seluruh bebatuan yang tertumpuk.
Dia hanya merasakan hangat tanpa sedikitpun merasa terbakar dengan api yang terlihat merah kebiruan itu. Pria ini membanyangkan tentang suasana para kesatria kerajaan zaman kerajaan Nusantara dahulu.
"Jadi pasukan Bayangkara yang sudah dilatih itu di wisuda di sini. Pasukan Bayangkara dari Singashari maupun Majapahit," kata Djarot. Djarot melihat Bojonegoro telah memberikan penekanan terhadap wisata budaya.
Baginya, Kayangan Api telah memberikan pengalaman wisata yang eksotik. "Coba kalian naik ke atas kemudian di atas api di situ, tidak terbakar, hangat dan membayangkan diri kalian itu betul-betul diselimuti oleh semangat aura api di dalam dada kita dan itu semua untuk pengabdian untuk Tanah Air. Itu mungkin filosofi yang digunakan oleh bala tentara Bayangkara waktu itu. Bayangkara adalah pengawal negara zaman Kerajaan Majapahit dan Singashari," ujarnya.
Sementara itu, Djarot yang datang dari Jakarta mengaku merasakan wisata spiritual yang luar biasa ketika memberanikan diri menyeberangi Kayangan Api yang membakar seluruh bebatuan yang tertumpuk.
Dia hanya merasakan hangat tanpa sedikitpun merasa terbakar dengan api yang terlihat merah kebiruan itu. Pria ini membanyangkan tentang suasana para kesatria kerajaan zaman kerajaan Nusantara dahulu.
"Jadi pasukan Bayangkara yang sudah dilatih itu di wisuda di sini. Pasukan Bayangkara dari Singashari maupun Majapahit," kata Djarot. Djarot melihat Bojonegoro telah memberikan penekanan terhadap wisata budaya.
Baginya, Kayangan Api telah memberikan pengalaman wisata yang eksotik. "Coba kalian naik ke atas kemudian di atas api di situ, tidak terbakar, hangat dan membayangkan diri kalian itu betul-betul diselimuti oleh semangat aura api di dalam dada kita dan itu semua untuk pengabdian untuk Tanah Air. Itu mungkin filosofi yang digunakan oleh bala tentara Bayangkara waktu itu. Bayangkara adalah pengawal negara zaman Kerajaan Majapahit dan Singashari," ujarnya.
(msd)
Lihat Juga :