Kisah Kesaktian Tongkat Sunan Kalijaga Bisa Munculkan Api Abadi Mrapen
Sabtu, 01 April 2023 - 05:22 WIB
loading...
A
A
A
Asal Mula Api Abadi Mrapen
Kisahnya dimulai saat baru berdirinya Kerajaan Demak yang didirikan Raden Patah usai runtuhnya Kerajaan Majapahit pada 1525. Kemudian Sunan Kalijaga sebagai salah satu ulama besar saat itu ditugaskan untuk membawa beberapa pusaka peninggalan Majapahit dan dari wilayah Jawa Timur ke Demak sebagai ibukota pemerintahan yang baru.
Pada saat itu Raden Patah atas saran para Wali Songo berniat untuk membangun sebuah masjid agung di ibukota negara. Lalu berangkatlah rombongan Sunan Kalijaga ke Demak, setelah sampai di Desa Manggarmas, Grobogan mereka merasa sangat letih.
Kemudian rombongan itu beristirahat, karena tidak ada air untuk minum, maka Sunan Kalijaga berdoa memohon kepada Allah SWT agar diberi air untuk minum para pengikutnya. Kemudian tongkatnya ditancapkannya ke tanah, lalu dicabutnya kembali. Tetapi yang keluar bukan air namun api yang tidak dapat padam (api abadi), sejak itulah tempat itu disebut Mrapen.
Kemudian di tempat lain dilakukan hal yang sama dan keluarlah pancuran air yang jernih, yang dapat diminum. Akhirnya tempat air tersebut dinamakan Sendang Dudo.
Demikian rombongan itu lalu meminum dari sendang tersebut setelah hilang letihnya mereka melanjutkan perjalanannya ke Demak. Sesampainya di Demak barang - barangnya yang dibawa diteliti. Ternyata ada yang ketinggalan di Mrapen, berupa sebuah ompak (alis tiang).
Namun Sunan Kalijaga menyatakan ompak itu tidak perlu diambil sebab nantinya akan banyak gunanya. Batu ompak itu kemudian dikenal dengan Watu Bobot. Suatu ketika tempat tersebut digunakan oleh Jaka Supa untuk membuat keris pusaka atas perintah Sunan Kalijaga.
Jaka Supa adalah Putra Tumenggung Empu Supodriyo, seorang Wedana Bupati empu (tukang membuat alat perang dari besi) Kerajaan Majapahit. Pada waktu itu Jaka Supa sendiri telah menjabat sebagai jajar empu walaupun dia abdi Majapahit, tetapi dia telah belajar agama Islam pada Sunan Kalijaga.
Kisahnya dimulai saat baru berdirinya Kerajaan Demak yang didirikan Raden Patah usai runtuhnya Kerajaan Majapahit pada 1525. Kemudian Sunan Kalijaga sebagai salah satu ulama besar saat itu ditugaskan untuk membawa beberapa pusaka peninggalan Majapahit dan dari wilayah Jawa Timur ke Demak sebagai ibukota pemerintahan yang baru.
Pada saat itu Raden Patah atas saran para Wali Songo berniat untuk membangun sebuah masjid agung di ibukota negara. Lalu berangkatlah rombongan Sunan Kalijaga ke Demak, setelah sampai di Desa Manggarmas, Grobogan mereka merasa sangat letih.
Kemudian rombongan itu beristirahat, karena tidak ada air untuk minum, maka Sunan Kalijaga berdoa memohon kepada Allah SWT agar diberi air untuk minum para pengikutnya. Kemudian tongkatnya ditancapkannya ke tanah, lalu dicabutnya kembali. Tetapi yang keluar bukan air namun api yang tidak dapat padam (api abadi), sejak itulah tempat itu disebut Mrapen.
Kemudian di tempat lain dilakukan hal yang sama dan keluarlah pancuran air yang jernih, yang dapat diminum. Akhirnya tempat air tersebut dinamakan Sendang Dudo.
Demikian rombongan itu lalu meminum dari sendang tersebut setelah hilang letihnya mereka melanjutkan perjalanannya ke Demak. Sesampainya di Demak barang - barangnya yang dibawa diteliti. Ternyata ada yang ketinggalan di Mrapen, berupa sebuah ompak (alis tiang).
Namun Sunan Kalijaga menyatakan ompak itu tidak perlu diambil sebab nantinya akan banyak gunanya. Batu ompak itu kemudian dikenal dengan Watu Bobot. Suatu ketika tempat tersebut digunakan oleh Jaka Supa untuk membuat keris pusaka atas perintah Sunan Kalijaga.
Jaka Supa adalah Putra Tumenggung Empu Supodriyo, seorang Wedana Bupati empu (tukang membuat alat perang dari besi) Kerajaan Majapahit. Pada waktu itu Jaka Supa sendiri telah menjabat sebagai jajar empu walaupun dia abdi Majapahit, tetapi dia telah belajar agama Islam pada Sunan Kalijaga.
Lihat Juga :