Kisah Aji Saka Pencipta Aksara Jawa untuk Mengenang 2 Pengawal Setianya
Jum'at, 17 Maret 2023 - 09:15 WIB
loading...
A
A
A
Mendengar cerita itu, Aji Saka dan abdinya memutuskan untuk pergi ke Negeri Medang Kamukan. Dia ingin menolong rakyat Medang Kamukan dari kebengisan Prabu Dewata Cengkar. Setelah sehari semalam berjalan keluar masuk hutan, menyeberangi sungai, serta menaiki dan menuruni bukit.
Baca juga: Sejarah Kesunanan Giri, Sebuah Kerajaan yang Berawal dari Pesantren
Akhirnya mereka sampai di kota Kerajaan Medang Kamukan. Suasana kota itu tampak sepi. Kota itu bagaikan kota mati. Tak seorang pun yang terlihat lalu lalang di jalan. Semua pintu rumah tertutup rapat. Para penduduk tidak mau keluar rumah, karena takut dimangsa oleh sang Prabu. Dia pun memutuskan untuk masuk menemui raja sementara abdinya diminta tetap menunggu di luar.
Dengan gagahnya, Aji Saka berjalan menuju ke istana. Suasana di sekitar istana tampak sepi. Hanya ada beberapa orang pengawal yang sedang mondar-mandir di depan pintu gerbang istana. Pengawal istana pun mencegatnya dan menanyakan maksud Aji Saka datang ke istana. “Saya Aji Saka dari Medang Kawit ingin bertemu dengan sang Prabu untuk menyerahkan diri saya kepada sang Prabu untuk dimangsa,” kata Aji Saka.
Para pengawal istana terkejut mendengar jawaban Aji Saka. Tanpa banyak tanya, mereka pun mengizinkan Aji Saka masuk ke dalam istana. Saat berada di dalam istana, ia melihat Prabu Dewata Cengkar sedang murka, karena Patih Jugul tidak membawa mangsa untuknya.
Tanpa rasa takut, Aji Saka langsung menghadap kepada sang Prabu dan menyerahkan diri untuk dimangsa. “Ampun, Gusti Prabu! Hamba Aji Saka. Jika Baginda berkenan, hamba siap menjadi santapan Baginda hari ini,” kata Aji Saka.
Betapa senangnya hati sang Prabu mendapat tawaran makanan. Dia segera memerintahkan Patih Jugul untuk menangkap dan memotong-motong tubuh Aji Saka untuk dimasak. Ketika Patih Jugul akan menangkapnya, Aji Saka mundur selangkah, lalu berkata: “Ampun, Gusti! Sebelum ditangkap, Hamba ada satu permintaan. Hamba mohon imbalan sebidang tanah seluas sorban hamba ini,” pinta Aji Saka.
Prabu Dewata Cengkar pun langsung memenuhi permintaan Aji Saka. Namun untuk menghindari kecurangan Aji Saka minta agar sang prabu sendiri yang mengukurnya.
Prabu Dewata Cengkar pun setuju. Perlahan-lahan, dia melangkah mundur sambil mengulur sorban itu. Anehnya, setiap diulur, sorban itu terus memanjang dan meluas hingga meliputi seluruh wilayah Kerajaan Medang Kamulan.
Saking senangnya mendapat mangsa yang masih muda dan segar, sang Prabu terus mengulur sorban itu sampai di pantai Laut Selatan tanpa disadarinya. Ketika dia masuk ke tengah laut, Aji Saka segera menyentakkan sorbannya, sehingga sang Prabu terjungkal dan seketika itu pula berubah menjadi seekor buaya putih.
Mengetahui kabar tersebut, seluruh rakyat Medang Kamulan kembali dari tempat pengungsian mereka. Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi Raja Medang Kamulan menggantikan Prabu Dewata Cengkar dengan gelar Prabu Anom Aji Saka.
Aji Saka pun memimpin Kerajaan Medang Kamulan dengan arif dan bijaksana, sehingga seluruh rakyatnya hidup tenang, aman, makmur, dan sentosa.
Pada suatu hari, Aji Saka memanggil Dora untuk menghadap kepadanya dan memerintahkan Dora pergi ke Pegunungan Kendeng untuk mengambil kerisnya. “Katakan kepada Sembada bahwa aku yang menyuruhmu,” titah Raja yang baru itu.
Baca juga: Sejarah Kesunanan Giri, Sebuah Kerajaan yang Berawal dari Pesantren
Akhirnya mereka sampai di kota Kerajaan Medang Kamukan. Suasana kota itu tampak sepi. Kota itu bagaikan kota mati. Tak seorang pun yang terlihat lalu lalang di jalan. Semua pintu rumah tertutup rapat. Para penduduk tidak mau keluar rumah, karena takut dimangsa oleh sang Prabu. Dia pun memutuskan untuk masuk menemui raja sementara abdinya diminta tetap menunggu di luar.
Dengan gagahnya, Aji Saka berjalan menuju ke istana. Suasana di sekitar istana tampak sepi. Hanya ada beberapa orang pengawal yang sedang mondar-mandir di depan pintu gerbang istana. Pengawal istana pun mencegatnya dan menanyakan maksud Aji Saka datang ke istana. “Saya Aji Saka dari Medang Kawit ingin bertemu dengan sang Prabu untuk menyerahkan diri saya kepada sang Prabu untuk dimangsa,” kata Aji Saka.
Para pengawal istana terkejut mendengar jawaban Aji Saka. Tanpa banyak tanya, mereka pun mengizinkan Aji Saka masuk ke dalam istana. Saat berada di dalam istana, ia melihat Prabu Dewata Cengkar sedang murka, karena Patih Jugul tidak membawa mangsa untuknya.
Tanpa rasa takut, Aji Saka langsung menghadap kepada sang Prabu dan menyerahkan diri untuk dimangsa. “Ampun, Gusti Prabu! Hamba Aji Saka. Jika Baginda berkenan, hamba siap menjadi santapan Baginda hari ini,” kata Aji Saka.
Betapa senangnya hati sang Prabu mendapat tawaran makanan. Dia segera memerintahkan Patih Jugul untuk menangkap dan memotong-motong tubuh Aji Saka untuk dimasak. Ketika Patih Jugul akan menangkapnya, Aji Saka mundur selangkah, lalu berkata: “Ampun, Gusti! Sebelum ditangkap, Hamba ada satu permintaan. Hamba mohon imbalan sebidang tanah seluas sorban hamba ini,” pinta Aji Saka.
Prabu Dewata Cengkar pun langsung memenuhi permintaan Aji Saka. Namun untuk menghindari kecurangan Aji Saka minta agar sang prabu sendiri yang mengukurnya.
Prabu Dewata Cengkar pun setuju. Perlahan-lahan, dia melangkah mundur sambil mengulur sorban itu. Anehnya, setiap diulur, sorban itu terus memanjang dan meluas hingga meliputi seluruh wilayah Kerajaan Medang Kamulan.
Saking senangnya mendapat mangsa yang masih muda dan segar, sang Prabu terus mengulur sorban itu sampai di pantai Laut Selatan tanpa disadarinya. Ketika dia masuk ke tengah laut, Aji Saka segera menyentakkan sorbannya, sehingga sang Prabu terjungkal dan seketika itu pula berubah menjadi seekor buaya putih.
Mengetahui kabar tersebut, seluruh rakyat Medang Kamulan kembali dari tempat pengungsian mereka. Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi Raja Medang Kamulan menggantikan Prabu Dewata Cengkar dengan gelar Prabu Anom Aji Saka.
Aji Saka pun memimpin Kerajaan Medang Kamulan dengan arif dan bijaksana, sehingga seluruh rakyatnya hidup tenang, aman, makmur, dan sentosa.
Pada suatu hari, Aji Saka memanggil Dora untuk menghadap kepadanya dan memerintahkan Dora pergi ke Pegunungan Kendeng untuk mengambil kerisnya. “Katakan kepada Sembada bahwa aku yang menyuruhmu,” titah Raja yang baru itu.
Lihat Juga :