Labuhan Merapi, Cara Orang Jawa Menjinakkan Amukan Gunung Merapi
Senin, 13 Maret 2023 - 18:16 WIB
loading...
A
A
A
“Ritual diakhiri dengan selametan, upacara menyantap sesajian makanan yang telah diletakkan di atas tikar yang terhampar di lantai”.
Baca juga: Heboh Rusa Liar Turun ke Pemukiman, Tanda Gunung Merapi Bakal Erupsi? TNGM Bilang Begini
Selanjutnya kotak kayu yang berisi persembahan benda keraton diusung sekaligus dikirab menuju kawasan kendhit. Tetua adat dan para abdi dalem keraton mengenakan pakaian tradisional Jawa.Laki-laki memakai kain batik, surjan dari kain lurik serta blangkon. Sedangkan perempuan mengenakan kemben dari kain warna-warni dan kain batik yang panjangnya hingga pergelangan kaki.
Sesampai di sebuah batu besar yang diberi nama Pelabuhan, persembahan dihaturkan. Kemenyan dibakar. Semua duduk bersila menghadap puncak gunung Merapi dengan posisi tangan menyembah.
Dengan bahasa Jawa halus, juru kunci berdoa sekaligus menghaturkan persembahan kepada Kiai Sapu Jagat. Khusus pakaian tradisional dan kain dari keraton dibagi-bagikan kepada warga.
Banyak warga yang berharap besar bisa mendapatkannya. Warga kemudian menyimpannya karena meyakini sebagai benda bertuah yang mampu menambah kewibawaan, melancarkan karier, menangkal serangan ilmu hitam serta menghindarkan dari malapetaka.
Malapetaka yang dimaksud, terutama terkait dengan ancaman erupsi gunung Merapi. Begitulah cara orang Jawa menjinakkan Gunung Merapi yang dikenal mudah mengamuk.
Baca juga: Heboh Rusa Liar Turun ke Pemukiman, Tanda Gunung Merapi Bakal Erupsi? TNGM Bilang Begini
Selanjutnya kotak kayu yang berisi persembahan benda keraton diusung sekaligus dikirab menuju kawasan kendhit. Tetua adat dan para abdi dalem keraton mengenakan pakaian tradisional Jawa.Laki-laki memakai kain batik, surjan dari kain lurik serta blangkon. Sedangkan perempuan mengenakan kemben dari kain warna-warni dan kain batik yang panjangnya hingga pergelangan kaki.
Sesampai di sebuah batu besar yang diberi nama Pelabuhan, persembahan dihaturkan. Kemenyan dibakar. Semua duduk bersila menghadap puncak gunung Merapi dengan posisi tangan menyembah.
Dengan bahasa Jawa halus, juru kunci berdoa sekaligus menghaturkan persembahan kepada Kiai Sapu Jagat. Khusus pakaian tradisional dan kain dari keraton dibagi-bagikan kepada warga.
Banyak warga yang berharap besar bisa mendapatkannya. Warga kemudian menyimpannya karena meyakini sebagai benda bertuah yang mampu menambah kewibawaan, melancarkan karier, menangkal serangan ilmu hitam serta menghindarkan dari malapetaka.
Malapetaka yang dimaksud, terutama terkait dengan ancaman erupsi gunung Merapi. Begitulah cara orang Jawa menjinakkan Gunung Merapi yang dikenal mudah mengamuk.
(nic)
Lihat Juga :