Kisah Ngeri Tahun 70-an di Jawa, Kepala Bocah Dipakai Tumbal Jembatan

Selasa, 28 Februari 2023 - 14:50 WIB
loading...
Kisah Ngeri Tahun 70-an...
ilustrasi
A A A
BLITAR - Tumbal nyawa manusia diperlukan dalam sebuah proyek besar pembangunan jembatan, waduk atau gedung. Cerita mencekam itu berkembang luas di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada kisaran tahun 70-90 an.

Di sebagian masyarakat Jawa, khususnya di wilayah eks karesidenan Kediri dan sekitarnya, cerita itu hingga kini masih bertahan. Sebagian warga bahkan mempercayai kebenarannya.

“Setiap yang tumbuh di tahun itu, hampir pasti pernah mendengar cerita itu,” tutur Mistur (68) warga Kabupaten Blitar.

Entah mendapat informasi dari mana. Banyak orang tua di Kediri dan sekitarnya yang tiba-tiba menakut-nakuti anak-anaknya dengan cerita penculikan. Setiap bocah diwanti-wanti untuk tidak bermain jauh-jauh dari rumah.

Setiap pulang sekolah diminta untuk langsung pulang ke rumah. Begitu juga selama perjalanan pulang. Mereka dihimbau tetap bersama-sama dengan teman-temanya. Intinya tidak berjalan sendirian.

Baca juga: Tragis! Diduga Sering Dihina Tak Punya Bapak, Bocah SD di Banyuwangi Akhiri Hidup

Sebab situasi sepi akan memudahkan para penculik bocah melancarkan aksinya. Para penculik digambarkan sebagai sekelompok orang berkendara mobil jenis Jeep, van atau VW Combi.

“Mereka menamai kelompoknya Duyung dengan simbol gunting dan golok,” demikian dikutip buku Kisah Tanah Jawa (2018).

Kelompok penculik itu beroperasi di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada akhir tahun 1970-an itu bersamaan dengan adanya sebuah proyek besar di Jawa Tengah.

Sebuah waduk yang membendung sungai Bengawan Solo, sedang memulai proses pembangunan. Kabar yang berkembang. Untuk kekokohan konstruksi, penanggung jawab proyek konon membutuhkan tumbal nyawa manusia.

Yang dibutuhkan adalah nyawa anak-anak yang berusia tidak lebih dari 13 tahun dan belum akil baligh. Syarat yang menyeramkan itu merupakan jalan pintas yang datang dari paranormal hitam.

“Mereka menyerahkan sepenuhnya pencarian tumbal anak-anak kepada pihak ketiga”.

Para penculik anak-anak pun bergentayangan di sekitaran wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Diceritakan oleh para orang tua kepada anak-anaknya betapa sadisnya modus yang dipakai para penculik.

Anak-anak yang sedang bermain atau dalam perjalanan pulang sekolah sendirian, tiba-tiba dijerat. Si bocah korban penculikan dimasukkan ke dalam Jeep dengan posisi dibekap dan dibawa ke tempat sepi.

Anak-anak itu lantas digorok lehernya serta dicongkel kedua matanya. Tubuh bocah yang sudah tak berkepala itu kemudian dibuang ke hutan atau jurang yang dalam, dengan posisi tangan terikat.

“Sementara kepalanya ditaruh di dalam karung untuk kemudian diserahkan kepada pihak pertama yang menyewa mereka untuk digunakan sebagai penguat bangunan”.

Kabar yang berkembang, sepasang mata bocah korban penculikan itu dipakai sebagai tumbal penglarisan. Konon yang sering memakai syarat penglaris ini adalah para pedagang es dawet.

Sedangkan kepala bocah korban penculikan selanjutnya ditanam pada bagian pondasi bangunan, ditimbun dan langsung dicor sesuai dengan perhitungan hari pasaran.

Perjanjian tumbal kepala anak-anak itu berlaku selama 100 tahun sejak bangunan itu difungsikan. Apabila masa kontrak habis, diyakini akan terjadi peristiwa kecelakaan di luar nalar.

Di antaranya, saat musim kemarau di mana air sedang dangkal. Tiba-tiba terjadi insiden orang tewas tenggelam. Korban tenggelam sebagian besar anak-anak yang sedang mencari ikan.

Peristiwa yang sepintas tak masuk akal itu diyakini akan terus berkelanjutan. Sejauh apa kebenaran kisah mengerikan yang berkembang pada era 70-90-an itu, wallahualam.
(msd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kasus Bocah 6 Tahun...
Kasus Bocah 6 Tahun Dibully dan Disetrum ke Tiang Listrik hingga Koma, Cuma 1 Pelaku Ditahan Polisi
Dhoho International...
Dhoho International Airport Jadi Gerbang Baru Wisata Selatan Jawa Timur
Bea Cukai-BAIS TNI Bongkar...
Bea Cukai-BAIS TNI Bongkar Produksi Pita Cukai Ilegal di Jateng, Selamatkan Kerugian Negara Rp570 Miliar
Dorong Transparansi...
Dorong Transparansi Pendanaan NGO, Mahasiswa Jatim Minta Negara Perkuat Pengawasan
Banjir dan Longsor Kepung...
Banjir dan Longsor Kepung Jateng: 3 Meninggal dan Ribuan Warga Terdampak
Pembangunan 7 Jembatan...
Pembangunan 7 Jembatan Bailey dan Armco di Sumbar dan Sumut Dikebut
Pertama Kali, Dokter...
Pertama Kali, Dokter Belanda Suntik Mati Seorang Anak di Bawah Usia 12 Tahun
5.000 Jembatan Gantung...
5.000 Jembatan Gantung Dibangun, Prabowo Ingin Percepat Konektivitas Pelosok
Said Iqbal Blak-blakan...
Said Iqbal Blak-blakan 2.500 Buruh Pabrik Terancam PHK
Rekomendasi
MNC Sekuritas Gelar...
MNC Sekuritas Gelar SPM Level 2 Bersama IBI Kesatuan Bogor: Mengenal Analisis Teknikal
Pakar Nilai Penggeledahan...
Pakar Nilai Penggeledahan Roy Suryo dan Dokter Tifa Sudah Sesuai Aturan
Kolombia Pecundangi...
Kolombia Pecundangi RD Kongo, Daniel Munoz Cetak Gol Penentu Kemenangan
Berita Terkini
BNPP Perkuat Pengawasan...
BNPP Perkuat Pengawasan Perbatasan RI-Timor Leste via Survei Pengendalian Jalur Tak Resmi di Belu
Taufik Hidayat Pelaku...
Taufik Hidayat Pelaku Penganiayaan Pacar Ditahan di Sel Khusus
Prakiraan Cuaca Jakarta...
Prakiraan Cuaca Jakarta Rabu 24 Juni 2026: Berawan Sejak Pagi, Berpotensi Hujan Ringan Sore Hari
Di Diskusi Partai Perindo,...
Di Diskusi Partai Perindo, JJ Rizal Minta Gubernur Jakarta Belajar dari Soekarno
Polisi Tangkap Taufik...
Polisi Tangkap Taufik Hidayat Penganiaya Pacar di Bandung lewat Transaksi Belanja
DPW Partai Perindo DKI...
DPW Partai Perindo DKI Launching Warkop Aspirasa, Gelar Diskusi Refleksi 499 Tahun Jakarta
Infografis
22 Tahun Mangkrak, 109...
22 Tahun Mangkrak, 109 Tiang Monorel di Jakarta Dibongkar
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved