Asal Usul Pulau Oksigen Giliyang di Sumenep, Miliki Udara Terbersih di Dunia
Jum'at, 10 Februari 2023 - 15:04 WIB
loading...
Pulau Oksigen Giliyang. Foto: Lukman/SINDOnews
A
A
A
SUMENEP - Kandungan oksigen di Pulau Giliyang, Kabupaten Sumenep, Madura, mencapai 20,9% dengan Level Explosive Limit (LEL) 0,5%. Kandungan di atas ambang batas normal dan bermanfaat bagi kesehatan.
Hal ini diungkap Tim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) belasan tahun silam. Temuan itu langsung menarik wisatawan dan peneliti untuk mendatangi pulau kecil tersebut.
Tak ayal, turis dari dalam dan luar negeri menyerbu pulau mini dengan penduduk kurang lebih 4.500 jiwa itu.
Baca juga: Potensi Wisata Sumenep Lengkap, Bupati Fauzi: Wisata Kesehatan Ada
Wisatawan yang ingin berkunjung ke pulau itu bisa datang dengan menggunakan taksi laut dengan waktu tempuh 30 sampai 40 menit. Mereka bisa naik perahu dari Pelabuhan Penyeberangan Dungkek, yang berjarak 30 kilometer (km) dari pusat kota Sumenep.
Ongkosnya pun tidak mahal. Pengunjung hanya mengeluarkan ongkos taksi laut sebesar Rp10.000 untuk menumpang perahu berkapasitas antara 20-50 orang tergantung ukuran angkutannya.
Giliyang memiliki dua dermaga, yaitu di Pantai Ropet, di Desa Banraas yang berada di ujung timur pulau yang dikhususkan bagi perahu nelayan. Satu lagi, dermaga penumpang di Desa Bancamara, ujung barat pulau.
Untuk menunjang pariwisata, Pemkab Sumenep telah membangun jalan di sepanjang pulau itu.
Baca: Wisata Sehat Ke Pulau Giliyang, Surga Tersembunyi di Sumenep Madura
Selain itu, sejak November 2017 PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga telah memasang pembangkit listrik berkekuatan 3x500 kilowatt di tempat itu. Ini untuk membantu menerangi Pulau Oksigen yang selama puluhan tahun mengandalkan pembangkit swadaya, berupa ribuan generator set yang dipasang sendiri oleh warga.
Giliyang adalah sebuah pulau kecil di tengah 17.000 pulau di kawasan Nusantara yang didatangi banyak kalangan, suku, dan bahkan bangsa hanya untuk menghirup oksigen di pulau mini itu.
Salah satu anggota penyusun buku pulau Giliyang, Arman Mustafa mengatakan, Giliyang sendiri merupakan bagian dari Kecamatan Dungkek.
Pulau ini diyakini mulai dihuni sejak masa pemerintahan Sultan Abdurrahman (1811-1854). Dalam buku berjudul Giliyang Salah Satu Pulau Wisata Sehat (2014) menyatakan seorang keluarga pelaut dari Makassar bernama Daeng Masalle.
Baca: Wisata Sehat ke Giliyang Sumenep, Pulau Berkualitas Oksigen Terbaik Dunia
"Kita dapat info itu dari keturunan Daeng Masalle yang pertama kali tiba melalui pantai Leguna, " kata Arman, Jumat (10/2/2023).
Pantai Laguna tersebut saat ini menjadi Desa Banraas. Satu di antara dua desa di Giliyang. Mengenai asal usul nama Giliyang, menurut Arman berasal dari kata Gili (pulau) dan Iyang (sesepuh). Meski ia sendiri tidak menampik jika ada versi lain.
"Malah ada yang mengatakan, jika Daeng Masalle itu tiba di Giliyang sekitar 1920-an. Ini mungkin perlu dikaji lagi, karena yang menceritakan pada kami itu keturunan Masalle yang kedelapan. Dia juga menyebut, tahun kedatangan leluhurnya itu yaitu tahun 1818," ungkap Arman.
Setelah Masalle, banyak keluarganya yang dari Makassar ikut hijrah melalui Desa Bancamara. Mereka terus menetap turun-temurun dan berasimilasi dengan warga lokal di pulau itu.
"Sisa-sisa sejarahnya masih ada salah satunya berupa pagar Batu tempo dulu," pungkasnya.
Hal ini diungkap Tim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) belasan tahun silam. Temuan itu langsung menarik wisatawan dan peneliti untuk mendatangi pulau kecil tersebut.
Tak ayal, turis dari dalam dan luar negeri menyerbu pulau mini dengan penduduk kurang lebih 4.500 jiwa itu.
Baca juga: Potensi Wisata Sumenep Lengkap, Bupati Fauzi: Wisata Kesehatan Ada
Wisatawan yang ingin berkunjung ke pulau itu bisa datang dengan menggunakan taksi laut dengan waktu tempuh 30 sampai 40 menit. Mereka bisa naik perahu dari Pelabuhan Penyeberangan Dungkek, yang berjarak 30 kilometer (km) dari pusat kota Sumenep.
Ongkosnya pun tidak mahal. Pengunjung hanya mengeluarkan ongkos taksi laut sebesar Rp10.000 untuk menumpang perahu berkapasitas antara 20-50 orang tergantung ukuran angkutannya.
Giliyang memiliki dua dermaga, yaitu di Pantai Ropet, di Desa Banraas yang berada di ujung timur pulau yang dikhususkan bagi perahu nelayan. Satu lagi, dermaga penumpang di Desa Bancamara, ujung barat pulau.
Untuk menunjang pariwisata, Pemkab Sumenep telah membangun jalan di sepanjang pulau itu.
Baca: Wisata Sehat Ke Pulau Giliyang, Surga Tersembunyi di Sumenep Madura
Selain itu, sejak November 2017 PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga telah memasang pembangkit listrik berkekuatan 3x500 kilowatt di tempat itu. Ini untuk membantu menerangi Pulau Oksigen yang selama puluhan tahun mengandalkan pembangkit swadaya, berupa ribuan generator set yang dipasang sendiri oleh warga.
Giliyang adalah sebuah pulau kecil di tengah 17.000 pulau di kawasan Nusantara yang didatangi banyak kalangan, suku, dan bahkan bangsa hanya untuk menghirup oksigen di pulau mini itu.
Salah satu anggota penyusun buku pulau Giliyang, Arman Mustafa mengatakan, Giliyang sendiri merupakan bagian dari Kecamatan Dungkek.
Pulau ini diyakini mulai dihuni sejak masa pemerintahan Sultan Abdurrahman (1811-1854). Dalam buku berjudul Giliyang Salah Satu Pulau Wisata Sehat (2014) menyatakan seorang keluarga pelaut dari Makassar bernama Daeng Masalle.
Baca: Wisata Sehat ke Giliyang Sumenep, Pulau Berkualitas Oksigen Terbaik Dunia
"Kita dapat info itu dari keturunan Daeng Masalle yang pertama kali tiba melalui pantai Leguna, " kata Arman, Jumat (10/2/2023).
Pantai Laguna tersebut saat ini menjadi Desa Banraas. Satu di antara dua desa di Giliyang. Mengenai asal usul nama Giliyang, menurut Arman berasal dari kata Gili (pulau) dan Iyang (sesepuh). Meski ia sendiri tidak menampik jika ada versi lain.
"Malah ada yang mengatakan, jika Daeng Masalle itu tiba di Giliyang sekitar 1920-an. Ini mungkin perlu dikaji lagi, karena yang menceritakan pada kami itu keturunan Masalle yang kedelapan. Dia juga menyebut, tahun kedatangan leluhurnya itu yaitu tahun 1818," ungkap Arman.
Setelah Masalle, banyak keluarganya yang dari Makassar ikut hijrah melalui Desa Bancamara. Mereka terus menetap turun-temurun dan berasimilasi dengan warga lokal di pulau itu.
"Sisa-sisa sejarahnya masih ada salah satunya berupa pagar Batu tempo dulu," pungkasnya.
(san)
Lihat Juga :