3 Tempat Prostitusi di Jakarta yang Sudah Ditutup, 2 di Antaranya Disulap Jadi Bangunan Bermanfaat
Kamis, 17 November 2022 - 19:59 WIB
Ali Sadikin belajar dari Thailand dan membentuk tempat yang disebutnya sebagai resosialisasi. Pada akhirnya, Kramat Tunggak dipilih sebagai lokasinya. Kala itu, dikumpulkan sekitar 79 WTS dan 28 Germo di tempat tersebut.
Sayangnya, setelah hampir 30 tahun resosialisasi di tempat tersebut tidak membuat masyarakat menjadi lebih baik. Pada akhirnya, di era pemerintahan Sutiyoso tahun 1998, dikeluarkan SK Gubernur DKI Jakarta yang memutuskan menutup tempat tersebut paling lambat 31 Desember 1999.
Memasuki tahun 2000, Kramat Tunggak sudah bersih dari pemukiman lokalisasi. Saat itu, Sutiyoso memiliki ide untuk membangun Jakarta Islamic Center (JIC).
2. Kalijodo
Tempat prostitusi di Jakarta yang sudah ditutup berikutnya adalah Kalijodo. Sebelum berkembang menjadi lokasi prostitusi, kawasan ini pada 1950-an dikenal sebagai lokasi wisata air.
Seorang warga lokal bernama Ceceng menyebut bahwa dulunya Kalijodo adalah tempat wisata air. Adapun wisata yang disediakan adalah untuk menikmati perahu kayu sepanjang 6 meter dengan bayaran Rp20 perak saja.
Pada keberlanjutannya, prostitusi di Kalijodo semakin berkembang pada tahun 1990-an. Hal ini membuat mulai munculnya rumah-rumah judi di sekitarnya, sehingga arus PSK pun menjadi tak terkendali.
Sayangnya, setelah hampir 30 tahun resosialisasi di tempat tersebut tidak membuat masyarakat menjadi lebih baik. Pada akhirnya, di era pemerintahan Sutiyoso tahun 1998, dikeluarkan SK Gubernur DKI Jakarta yang memutuskan menutup tempat tersebut paling lambat 31 Desember 1999.
Memasuki tahun 2000, Kramat Tunggak sudah bersih dari pemukiman lokalisasi. Saat itu, Sutiyoso memiliki ide untuk membangun Jakarta Islamic Center (JIC).
2. Kalijodo
Tempat prostitusi di Jakarta yang sudah ditutup berikutnya adalah Kalijodo. Sebelum berkembang menjadi lokasi prostitusi, kawasan ini pada 1950-an dikenal sebagai lokasi wisata air.
Seorang warga lokal bernama Ceceng menyebut bahwa dulunya Kalijodo adalah tempat wisata air. Adapun wisata yang disediakan adalah untuk menikmati perahu kayu sepanjang 6 meter dengan bayaran Rp20 perak saja.
Pada keberlanjutannya, prostitusi di Kalijodo semakin berkembang pada tahun 1990-an. Hal ini membuat mulai munculnya rumah-rumah judi di sekitarnya, sehingga arus PSK pun menjadi tak terkendali.
Lihat Juga :