Ini Alasan Satpam Stasiun Duri Aniaya Anak Pimpinan Ponpes di Tambora
Rabu, 09 November 2022 - 12:40 WIB
Alasan satpam DI (25) dan SB (20) menganiaya pemuda berinisial AZ (21) di Stasiun Duri, Tambora, Jakarta Barat. Foto: Ilustrasi/SINDOnews
JAKARTA - Ka polsek Tambora Kompol Putra Pratama mengungkapkanalasan satpam DI (25) dan SB (20) menganiaya pemuda berinisial AZ (21) di Stasiun Duri, Tambora, Jakarta Barat. Keduanya kesal karena korban tidak mengakui telah membakar sampah.
Putra mengatakan, peristiwa tersebut terjadi pada Jumat 4 November 2022 dini hari. Awalnya, korban yang biasa bermain di Stasiun Duri itu ketahuan pihak satpam setempat membakar sampah di sekitar lokasi pada pukul 00.00 WIB. Baca juga: Gegara Bakar Sampah, Anak Pimpinan Ponpes di Tambora Dianiaya 2 Satpam
"Kemudian diamankan oleh sekuriti karena memangtindakan bakar sampah itu kan berbahaya, berpotensi kebakaran stasiun," kata Putra saat dikonfirmasi, Rabu (9/11/2022).
Dinilai bersalah, kedua satpam tersebut langsung memborgol dan mengikat korban di kursi. Korban kemudian diinterogasi dan tidak mau mengakui perbuatannya.
Lantaran kesal, korban lalu dipukul di bagian lengan, paha, dan punggung menggunakan selang air serta sarung samurai. Korban juga dicukur botak oleh kedua pelaku.
"Mereka kesel sama anak itu enggak ngaku dan keterangannya berubah-ubah. Itulah kenapa dipukul, kemungkinan mereka enggak tahu kalau anak ini keterbelakangan," katanya.
Hingga pada Jumat pagi sekitar pukul 07.00 WIB, korban baru dilepas oleh satpam lain dan diminta untuk pulang. Setibanya di rumah, korban menceritakan kejadian penganiayaan yang menimpanya kepada orang tuanya yang merupakan pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Asalafiyah, KH Dedi Syahroni di wilayah Kecamatan Tambora.
Putra mengatakan, peristiwa tersebut terjadi pada Jumat 4 November 2022 dini hari. Awalnya, korban yang biasa bermain di Stasiun Duri itu ketahuan pihak satpam setempat membakar sampah di sekitar lokasi pada pukul 00.00 WIB. Baca juga: Gegara Bakar Sampah, Anak Pimpinan Ponpes di Tambora Dianiaya 2 Satpam
"Kemudian diamankan oleh sekuriti karena memangtindakan bakar sampah itu kan berbahaya, berpotensi kebakaran stasiun," kata Putra saat dikonfirmasi, Rabu (9/11/2022).
Dinilai bersalah, kedua satpam tersebut langsung memborgol dan mengikat korban di kursi. Korban kemudian diinterogasi dan tidak mau mengakui perbuatannya.
Lantaran kesal, korban lalu dipukul di bagian lengan, paha, dan punggung menggunakan selang air serta sarung samurai. Korban juga dicukur botak oleh kedua pelaku.
"Mereka kesel sama anak itu enggak ngaku dan keterangannya berubah-ubah. Itulah kenapa dipukul, kemungkinan mereka enggak tahu kalau anak ini keterbelakangan," katanya.
Hingga pada Jumat pagi sekitar pukul 07.00 WIB, korban baru dilepas oleh satpam lain dan diminta untuk pulang. Setibanya di rumah, korban menceritakan kejadian penganiayaan yang menimpanya kepada orang tuanya yang merupakan pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Asalafiyah, KH Dedi Syahroni di wilayah Kecamatan Tambora.