Pj Gubernur Pengganti Anies Harus Jaga Netralitas dan Tidak Membuat Gaduh
Kamis, 29 September 2022 - 09:00 WIB
Tiga kandidat calon Pj Gubernur pengganti Anies Baswedan usulan DPRD DKI Jakarta. Foto: Dok/SINDOnews
JAKARTA - Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta pengganti Anies Baswedan harus menjaga netralitas dan tidak membuat gaduh. Demikian diingatkan oleh mantan Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri ( Kemendagri ) yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta 2016-2017 Soni Sumarsono di Kantor DPD Golkar DKI Jakarta, Rabu 28 September 2022.
"Memimpin sebuah daerah seperti DKI Jakarta seperti sebuah karya seni. Mengelola dinamika internal dan eksternal, birokrasi. Pemprov yang kondusif. Tidak boleh ada kegaduhan, dan menjaga netralitas birokrasi. Eksternal komunikasi dengan semua parpol bahkan DPP, pengusaha dan seterusnya itu sebuah pekerjaan yang tidak mudah," tutur Soni. Baca juga: Anies Minta Pj Gubernur Ikuti Aturan Pergub dan Kepgub
Sosok Pj Gubernur DKI Jakarta yang akan menggantikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada 16 Oktober 2022, kata Soni juga perlu merangkul semua lapisan demi kemajuan Kota Jakarta.
"Kemudian, memastikan dan memiliki kompetensi administrasi teknis dan manajerial. Bisa berkomunikasi dengan semua parpol. Itu tidak mudah, membutuhkan kemampuan manajerial interaktif. Merangkul perbedaan dalam kesamaan," kata Soni.
"Memimpin sebuah daerah seperti DKI Jakarta seperti sebuah karya seni. Mengelola dinamika internal dan eksternal, birokrasi. Pemprov yang kondusif. Tidak boleh ada kegaduhan, dan menjaga netralitas birokrasi. Eksternal komunikasi dengan semua parpol bahkan DPP, pengusaha dan seterusnya itu sebuah pekerjaan yang tidak mudah," tutur Soni. Baca juga: Anies Minta Pj Gubernur Ikuti Aturan Pergub dan Kepgub
Sosok Pj Gubernur DKI Jakarta yang akan menggantikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada 16 Oktober 2022, kata Soni juga perlu merangkul semua lapisan demi kemajuan Kota Jakarta.
"Kemudian, memastikan dan memiliki kompetensi administrasi teknis dan manajerial. Bisa berkomunikasi dengan semua parpol. Itu tidak mudah, membutuhkan kemampuan manajerial interaktif. Merangkul perbedaan dalam kesamaan," kata Soni.
Lihat Juga :