Batu Menangis, Kisah Gadis Cantik Durhaka yang Dikutuk Jadi Batu
Sabtu, 06 Agustus 2022 - 05:00 WIB
Darmi sempat menolak tak mau ke pasar dengan alasan ia tidak mau kulitnya menjadi hitam karena kepanasan. Tetapi dengan terpaksa Darmi pun mau ikut dan mengajukan syarat. Syaratnya yaitu ibunya harus berjalan di belakang Darmi, ia tak mau orang lain melihat ibu dan Darmi berjalan beriringan.
Karena rumah mereka yang jauh, ibu dan anaknya ini harus berjalan jauh untuk sampai ke pasar. Darmi berjalan di depan ibunya dengan mengenakan pakaian yang sangat bagus. Sedangkan ibunya berjalan di belakang Darmi dengan pakaian lusuh dan kotor. Saat memasuki desa, semua orang yang melihat Darmi langsung terpesona. Banyak pemuda desa yang mengaguminya
Penduduk desa dibuat heran dengan orang di belakang Darmi. Salah satu dari mereka pun bertanya siapa orang yang berjalan di belakang Darmi. Dengan sombongnya, Darmi berkata bahwa ibunya adalah seorang pembantu. Setiap orang yang bertanya, Darmi akan menjawab bahwa orang yang di belakangnya itu adalah pembantunya. Sang ibu hanya bisa menahan diri dan menangis dalam hati.
Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang di sepanjang jalannya yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya seperti itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu ataupun budaknya.
Pada awalnya mendengar jawaban putrinya yang durhaka apabila ditanya orang, si ibu masih bisa menahan diri. Tetapi setelah berulang kali didengarnya jawabannya masih tetap sama dan yang sangat menyakitkan hati, pada akhirnya si ibu yang malang itu tak bisa menahan diri lalu ia berdoa.
“Ya Tuhan, hamba sudah tidak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba dengan teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, Tuhan hukumlah anakku yang durhaka ini ! Hukumlah dia….”
Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, tak lama setelah ibu berdoa, langit menjadi mendung, petir datang dan mulai turun hujan. Perlahan-lahan tubuh Darmi mulai membatu. Dimulai dari kaki yang tidak bisa digerakkan lalu seluruh tubuhnya yang berubah menjadi batu.
Darmi menangis ketakutan dan memohon ampun pada ibunya. Ibu tidak dapat berbuat apa apa lagi. Hukuman untuk Darmi tidak bisa dibatalkan lagi. Darmi menangis dan menyesali perbuatannya. Saat kepala Darmi belum menjadi batu, ibunya melihat Darmi menitikkan air mata. Semua orang di sana menyaksikan peristiwa tersebut.
Karena rumah mereka yang jauh, ibu dan anaknya ini harus berjalan jauh untuk sampai ke pasar. Darmi berjalan di depan ibunya dengan mengenakan pakaian yang sangat bagus. Sedangkan ibunya berjalan di belakang Darmi dengan pakaian lusuh dan kotor. Saat memasuki desa, semua orang yang melihat Darmi langsung terpesona. Banyak pemuda desa yang mengaguminya
Penduduk desa dibuat heran dengan orang di belakang Darmi. Salah satu dari mereka pun bertanya siapa orang yang berjalan di belakang Darmi. Dengan sombongnya, Darmi berkata bahwa ibunya adalah seorang pembantu. Setiap orang yang bertanya, Darmi akan menjawab bahwa orang yang di belakangnya itu adalah pembantunya. Sang ibu hanya bisa menahan diri dan menangis dalam hati.
Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang di sepanjang jalannya yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya seperti itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu ataupun budaknya.
Pada awalnya mendengar jawaban putrinya yang durhaka apabila ditanya orang, si ibu masih bisa menahan diri. Tetapi setelah berulang kali didengarnya jawabannya masih tetap sama dan yang sangat menyakitkan hati, pada akhirnya si ibu yang malang itu tak bisa menahan diri lalu ia berdoa.
“Ya Tuhan, hamba sudah tidak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba dengan teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, Tuhan hukumlah anakku yang durhaka ini ! Hukumlah dia….”
Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, tak lama setelah ibu berdoa, langit menjadi mendung, petir datang dan mulai turun hujan. Perlahan-lahan tubuh Darmi mulai membatu. Dimulai dari kaki yang tidak bisa digerakkan lalu seluruh tubuhnya yang berubah menjadi batu.
Darmi menangis ketakutan dan memohon ampun pada ibunya. Ibu tidak dapat berbuat apa apa lagi. Hukuman untuk Darmi tidak bisa dibatalkan lagi. Darmi menangis dan menyesali perbuatannya. Saat kepala Darmi belum menjadi batu, ibunya melihat Darmi menitikkan air mata. Semua orang di sana menyaksikan peristiwa tersebut.
Lihat Juga :