Kendaraan Listrik Bakal Membawa Indonesia Menuju Zaman Emas Tahun 2045
Minggu, 19 Juni 2022 - 15:47 WIB
Harinowo menjelaskan, LG mempunyai join venture dengan general motor. Pihak mereka juga telah merencanakan membangun 4 pabrik di sana. Menurut Harinowo, pabrik-pabrik tersebut membutuhkan katoda yang besar yang akan diproduksi di Batang.
Saat ini, kata Harinowo, proses pengolahan dan pemurnian bijih nikel kadar rendah dengan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) sudah diproduksi di Indonesia, persisnya di Halmahera. Proses ini dialkuan untuk menghasilkan produk akhir berupa nikel sulfat dan kobalt sulfat.
“Ini sudah ekspor, tahun lalu. Ini pabrik HPAL yang terbesar di dunia. Sebelum pabrik ini didirikan, sudah ada 9 pabrik HPAL di seluruh dunia, yaitu 2 di Filipina, Papua New Gini, New Caledonia, kemudian ada 4 di Australia dan 1 di Madagaskar,” jelasnya.
Dengan adanya pabrik HPAL di Indonesia, kebutuhan bahan baku baterai yang diperlukan di Batang maupun di seluruh dunia nanti akan bisa dipenuhi oleh Indonesia. Selain itu, nantinya sumber energi listrik juga harus mulai beralih dari batu bara, minyak bumi dan gas ke arah energi yang terbaru dan terbarukan.
Mengutip data dari US Geological Survey, Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia. Menurut data tersebut, ada sebanyak 21 juta ton cadangan nikel di Indonesia. Akan tetapi, menurut riset yang dilakukan oleh Kementerian ESDM, kata Harinowo, ternyata Indonesia memiliki cadangan nikel 68 juta ton, bukan 21 juta ton.
“Jadi dengan ini semua, saya yakin Indonesia benar-benar menuju zaman emasnya di tahun 2045,” imbuhnya.
Sementara itu, kaitannya dengan kesiapan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang dibutuhkan untuk percepatan program kendaraan listrik bermotor, Ika Maya Sari mengaku optimis.
Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) Pemerintah Indonesia mencanangkan bahwa tahun 2025 akan terdapat 1.000 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Namun pemerintah saat ini menargetkan bahwa dalam tahun 2025 akan dibangun 2.465 SPKLU. jadi ini lebih tinggi dari rencana umum energi nasional.
Saat ini, kata Harinowo, proses pengolahan dan pemurnian bijih nikel kadar rendah dengan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) sudah diproduksi di Indonesia, persisnya di Halmahera. Proses ini dialkuan untuk menghasilkan produk akhir berupa nikel sulfat dan kobalt sulfat.
“Ini sudah ekspor, tahun lalu. Ini pabrik HPAL yang terbesar di dunia. Sebelum pabrik ini didirikan, sudah ada 9 pabrik HPAL di seluruh dunia, yaitu 2 di Filipina, Papua New Gini, New Caledonia, kemudian ada 4 di Australia dan 1 di Madagaskar,” jelasnya.
Dengan adanya pabrik HPAL di Indonesia, kebutuhan bahan baku baterai yang diperlukan di Batang maupun di seluruh dunia nanti akan bisa dipenuhi oleh Indonesia. Selain itu, nantinya sumber energi listrik juga harus mulai beralih dari batu bara, minyak bumi dan gas ke arah energi yang terbaru dan terbarukan.
Mengutip data dari US Geological Survey, Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia. Menurut data tersebut, ada sebanyak 21 juta ton cadangan nikel di Indonesia. Akan tetapi, menurut riset yang dilakukan oleh Kementerian ESDM, kata Harinowo, ternyata Indonesia memiliki cadangan nikel 68 juta ton, bukan 21 juta ton.
“Jadi dengan ini semua, saya yakin Indonesia benar-benar menuju zaman emasnya di tahun 2045,” imbuhnya.
Sementara itu, kaitannya dengan kesiapan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang dibutuhkan untuk percepatan program kendaraan listrik bermotor, Ika Maya Sari mengaku optimis.
Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) Pemerintah Indonesia mencanangkan bahwa tahun 2025 akan terdapat 1.000 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Namun pemerintah saat ini menargetkan bahwa dalam tahun 2025 akan dibangun 2.465 SPKLU. jadi ini lebih tinggi dari rencana umum energi nasional.
Lihat Juga :