BKKBN Sebarluaskan Program Bangga Kencana, Strategi Tekan Angka Stunting

Senin, 13 Juni 2022 - 15:23 WIB
Untuk menekan angka tersebut, lanjut Rita, diperlukan kerja sama terpadu lintas sektor. Salah satunya dengan melibatkan tim penggerak pemberdayaan kesejahteraan keluarga atau TP-PKK sebagai mitra BKKBN.

Kepala Bidang Kesehatan Keluarga dan Lingkungan PKK Sulsel, dr. Ema Alasiry, menuturkan stunting merupakan kondisi malnutrisi kronik pada anak yang diakibatkan kekurangan asupan gizi ataupun infeksi kronik. Stunting bukan hanya menyebabkan fisik anak menjadi pendek, tapi juga bisa menghambat perkembangan otak anak.

"Awalnya itu berat badan (BB) yang mulai turun dan itu jadi clue bahwa anak itu harus segera diintervensi. Pada usia 2-5 tahun, fisik anak mungkin bisa diperbaiki tapi kognitif atau kemampuan otaknya susah diatasi," tutur Ema.

Perbaikan gizi anak pun, kata dia, tak boleh dilaksanakan sembarangan. Pasalnya, hal itu justru bisa menimbulkan dampak yang lebih parah.

"Perbaikan gizi harus dilakukan tapi tidak boleh kebablasan. Karena kalau kebablasan, maka akan mengakibatkan penyakit metabolik usia muda, seperti obesitas," katanya.

Percepatan penurunan stunting, lanjut Ema, dapat dilakukan dengan metode intervensi dan pencegahan. Dalam upaya intervensi penanganan kasus stunting PKK menggandeng organisasi perangkat daerah (OPD) dan organisasi profesi terkait.

Sementara dalam upaya preventif atau pencegahan, TP-PKK terus melakukan upaya promosi, sosialisasi dan edukasi yang gencar dalam bidang kesehatan dan pangan. Termasuk membantu penguatan program audit maternal perinatal dengan memberdayakan kader dalam melaporkan kasus kematian ibu dan bayi secara berjenjang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!