Legenda Roti Lauw, Makanan Jalanan Cikini-Gondangdia yang Ada Sebelum Indonesia Merdeka

Minggu, 29 Mei 2022 - 07:40 WIB
Memanfaatkan kebiasaan masyarakat Eropa yang gemar makan roti di pagi hari. Lau Tjoan To atau Junus Jahja mengawali usahanya dengan membuat rotinya sendiri dan menjualnya dengan gerobak ke beberapa jalanan di sekitar Cikini - Gondangdia.Bagi Lau hal itu tidaklah sulit, mengingat dirinya merupakan keturunan dari Lau Lok Soei yang merupakan master pembuat roti.

Kian lama, Roti Lauw mulai digemari warganya, hingga puncaknya terjadi 1948 ketika bisnis ini berkembang.Lau kemudian membuka toko roti di Gondangdia yang hingga kini masih bertahan. Tidak heran roti ini menjadi salah satu koleksi Museum Pustaka Peranakan Tionghoa. Meski saat ini toko roti tengah berkembang, namun Roti Lauw masih bertahan dengan marketing sederhananya.

Rasanya yang khas dan cita rasa tinggi menjadi salah satu keunggulannya. Termasuk di tahun 80-an, saat publik Jakarta mendambakkan Roti Tan Ek Tjoan, Roti Lauw justru berkembang pesat dengan menjamurnya beberapa toko roti.Selain karena cita rasanya, Roti Lauw terkenal dengan keawetannya yang tetap empuk meski tersimpan 3 hari.



Selain itu, dibandingkan roti isi lainnya, Roti memiliki karakter kuat, yakini rasa roti yang padat, keras, dan berwarna kecoklatan yang membuat siapapun kembali ke masa lalu. Karenanya tidak heran, roti buaya milik Roti Lauw menjadi salah satu roti terbaik. Campuran kayu manis, gula merah, dan taburan kacang wijen menjadi pembeda roti ini dengan roti lainnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!