Pecahkan Rekor Muri, 99 Santri Ponpes Daarul Fallah Grobogan Menari Sufi 24 Jam
Sabtu, 01 Januari 2022 - 13:00 WIB
"Untuk memecahkan rekor MURI, para penari sufi menari berputar-putar secara bergantian selama 24 jam nonstop. Tarian yang berasal dari Turki ini dikenal dengan sebutan whirling dervishes," kata Gus Mbodho, sapaan akrab KH. Muhammad Ghufron, Sabtu (1/1/2022).
Menurutnya, gerakan berputar-putar ini dianggap penuh makna, karena sebagai bagian dari meditasi diri. Sehingga para penari sufi bisa berputar-putar dalam waktu yang lama, tanpa harus merasa pusing.
Baca: Dihadiri Zulhas, Musran Serentak PAN Jatim Digelar di Pondok Pesantren NU
Menurut Gus Mbodo, tarian sufi identik dengan Syekh Jalaludin Rumi, karena memang beliaulah yang pertama kali menciptakannya. "Perlu diketahui, Syekh Rumi merupakan sosok yang terkenal sebagai seorang tokoh sufi dan penyair legendaris yang berasal dari Persia," terangnya.
Sementara itu, Gus Ganung, pengasuh Padepokan Suwuk Nusantara menjelaskan, selama 24 jam acara berlangsung, diantara iringan tarian sufi juga dimeriahkan pementasan musikalisasi puisi dan suluk.
Adapun, penampilan puisi dan suluk oleh pengasuh Pondok Pesantren Kebudayaan Ndalem Ayem, Salatiga, Gus Sofyan Muhammad bersama dua seniman musik asal Semarang, FebriansyahRiff dan Ghani, disambung Wayang Kulit dengan dalang Gus Mbodo.
Menurutnya, gerakan berputar-putar ini dianggap penuh makna, karena sebagai bagian dari meditasi diri. Sehingga para penari sufi bisa berputar-putar dalam waktu yang lama, tanpa harus merasa pusing.
Baca: Dihadiri Zulhas, Musran Serentak PAN Jatim Digelar di Pondok Pesantren NU
Menurut Gus Mbodo, tarian sufi identik dengan Syekh Jalaludin Rumi, karena memang beliaulah yang pertama kali menciptakannya. "Perlu diketahui, Syekh Rumi merupakan sosok yang terkenal sebagai seorang tokoh sufi dan penyair legendaris yang berasal dari Persia," terangnya.
Sementara itu, Gus Ganung, pengasuh Padepokan Suwuk Nusantara menjelaskan, selama 24 jam acara berlangsung, diantara iringan tarian sufi juga dimeriahkan pementasan musikalisasi puisi dan suluk.
Adapun, penampilan puisi dan suluk oleh pengasuh Pondok Pesantren Kebudayaan Ndalem Ayem, Salatiga, Gus Sofyan Muhammad bersama dua seniman musik asal Semarang, FebriansyahRiff dan Ghani, disambung Wayang Kulit dengan dalang Gus Mbodo.
Lihat Juga :