Kisah Perang Saudara di Balik Legenda Terbelahnya Pulau Jawa dan Sumatera
Senin, 01 November 2021 - 20:32 WIB
Diketahui, letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada 1883 sangat dahsyat dimana awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Suara letusan itu bahkan terdengar hingga Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer.
Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II hingga menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer dan matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya.
Namun, di balik dua teori tersebut, berkembang cerita di masyarakat terkait asal muasal terbelahnya Pulau Jawa dan Sumatera itu. Meski secara nalar dan logika sukar diterima, namun cerita itu banyak dipercaya hingga menjadi legenda.
Selat Sunda sendiri merupakan selat yang menghubungkan Jawa dan Sumatera serta menghubungkan Laut Jawa dengan Samudera Hindia. Dalam legenda, terbentuknya Selat Sunda juga mengawali cerita terbentuknya Gunung Krakatau.
Masyarakat percaya bahwa Selat Sunda terbentuk berkat kekuasaan seorang raja yang berkuasa atas tanah Jawa dan Sumatera yang kalau itu merupakan satu daratan, yakni Prabu Rakata. Prabu Rakata dikenal sebagai raja yang adil dan bijaksana dan memiliki dua orang putera bernama Raden Sundana dan Raden Tapabaruna.
Di usianya yang telah senja, Prabu Rakata atau dikenal juga dengan nama Krakatau itu berniat untuk membagi wilayah kekuasaannya, yakni wilayah barat yang kini menjadi Pulau Sumatera dan Timur yang kini menjadi Pulau Jawa.
Selain usianya yang telah senja, niat Prabu Rakata juga didasari keinginannya untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Kedua alasan tersebut membuat tekad Prabu Rakata menyerahkan wilayah kekuasaannya kepada kedua putranya semakin kuat.
Tiba di hari penentuan, Prabu Rakata pun akhirnya menyerahkan wilayah barat kepada Raden Tapabaruna dan wilayah timur kepada Raden Sundana. Pembagian wilayah tersebut dilakukan sangat adil oleh Prabu Rakata karena tak ingin kedua putranya berselisih pascapembagian wilayah kekuasaannya itu.
Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II hingga menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer dan matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya.
Namun, di balik dua teori tersebut, berkembang cerita di masyarakat terkait asal muasal terbelahnya Pulau Jawa dan Sumatera itu. Meski secara nalar dan logika sukar diterima, namun cerita itu banyak dipercaya hingga menjadi legenda.
Selat Sunda sendiri merupakan selat yang menghubungkan Jawa dan Sumatera serta menghubungkan Laut Jawa dengan Samudera Hindia. Dalam legenda, terbentuknya Selat Sunda juga mengawali cerita terbentuknya Gunung Krakatau.
Masyarakat percaya bahwa Selat Sunda terbentuk berkat kekuasaan seorang raja yang berkuasa atas tanah Jawa dan Sumatera yang kalau itu merupakan satu daratan, yakni Prabu Rakata. Prabu Rakata dikenal sebagai raja yang adil dan bijaksana dan memiliki dua orang putera bernama Raden Sundana dan Raden Tapabaruna.
Di usianya yang telah senja, Prabu Rakata atau dikenal juga dengan nama Krakatau itu berniat untuk membagi wilayah kekuasaannya, yakni wilayah barat yang kini menjadi Pulau Sumatera dan Timur yang kini menjadi Pulau Jawa.
Selain usianya yang telah senja, niat Prabu Rakata juga didasari keinginannya untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Kedua alasan tersebut membuat tekad Prabu Rakata menyerahkan wilayah kekuasaannya kepada kedua putranya semakin kuat.
Tiba di hari penentuan, Prabu Rakata pun akhirnya menyerahkan wilayah barat kepada Raden Tapabaruna dan wilayah timur kepada Raden Sundana. Pembagian wilayah tersebut dilakukan sangat adil oleh Prabu Rakata karena tak ingin kedua putranya berselisih pascapembagian wilayah kekuasaannya itu.
Lihat Juga :