Pendiri Hipmi Prihatin Rendahnya Jumlah Wirausahawan di Indonesia
Minggu, 24 Oktober 2021 - 10:31 WIB
Untuk itu, dia bersama dengan beberapa tokoh Hipmi saat ini menyusun roadmap Hipmi 50 tahun ke depan. Salah satunya harus mampu menciptakan enterpreneur baru. Dalam roadmap tersebut ditegaskan bahwa 50 tahun ke depan jumlah enterpreneur di Indonesia harus mencapai sekitar 12 hingga 14 persen. “Tujuan Hipmi didirikan adalah untuk melahirkan entrepreneur nasionalis," katanya.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, Adik Dwi Putranto menyatakan, visi misi Hipmi sebenarnya sama dengan Kadin, yaitu membantu mendorong percepatan pemulihan ekonomi di Jatim maupun di Indonesia.
“Wirausahawan baru ini diharapkan akan bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Kalau ada wirausaha baru, maka ada penyerapan tenaga kerja, tenaga kerja bisa menabung, bisa investasi, dan seterusnya. Bahkan, akan muncul pasar dan permintaan baru selanjutnya akan muncul lagi wirausaha baru. Siklusnya seperti itu,” jelas Adik.
Namun ada beberapa kendala yang dihadapi untuk menciptakan enterpreneur tersebut, salah satunya adalah kurangnya dukungan sistem pendidikan di Indonesia. Banyak pengusaha juga mengeluhkan rendahnya kualitas SDM lulusan SMK dan Perguruan Tinggi. Padahal harusnya mereka diciptakan untuk menjadi enterpreneur atau tenaga kerja yang siap kerja.
“Lulusan SMK dan perguruan tinggi, menurut kami belum begitu sesuai dengan kebutuhan industri dan wirausaha," terangnya
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, Adik Dwi Putranto menyatakan, visi misi Hipmi sebenarnya sama dengan Kadin, yaitu membantu mendorong percepatan pemulihan ekonomi di Jatim maupun di Indonesia.
“Wirausahawan baru ini diharapkan akan bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Kalau ada wirausaha baru, maka ada penyerapan tenaga kerja, tenaga kerja bisa menabung, bisa investasi, dan seterusnya. Bahkan, akan muncul pasar dan permintaan baru selanjutnya akan muncul lagi wirausaha baru. Siklusnya seperti itu,” jelas Adik.
Namun ada beberapa kendala yang dihadapi untuk menciptakan enterpreneur tersebut, salah satunya adalah kurangnya dukungan sistem pendidikan di Indonesia. Banyak pengusaha juga mengeluhkan rendahnya kualitas SDM lulusan SMK dan Perguruan Tinggi. Padahal harusnya mereka diciptakan untuk menjadi enterpreneur atau tenaga kerja yang siap kerja.
“Lulusan SMK dan perguruan tinggi, menurut kami belum begitu sesuai dengan kebutuhan industri dan wirausaha," terangnya
(msd)
Lihat Juga :