Sepenggal Kisah Perjuangan Gus Dur Merebut Hati Sinta Nuriyah

Jum'at, 16 Juli 2021 - 05:00 WIB
Di Jombang, Gus Dur mengalami suatu pertemuan yang jauh lebih penting daripada pertemuannya dengan karya-karya sastra pengarangpengarang terkenal yang dibacanya dengan penuh gairah. Sebagai remaja, dia belum pernah mengalami kisah cinta.

Hingga saat itu, perempuan-perempuan yang sempat digandrunginya hanyalah mereka yang menatapnya dari layar perak. Namun, ketika dia mulai mengajar di madrasah di Tambakberas pada awal tahun 1960an, dia mulai tertarik kepada seorang siswi yang bernama Nuriyah.

Gadis ini adalah salah satu dari gadis-gadis yang paling menarik di kelasnya. Dia cerdas dan berpikir bebas serta menarik perhatian sejumlah pemuda di lingkungan pesantren itu. Oleh karenanya, cukup mengherankan apabila ia bisa tertarik pada sang guru yang agak canggung, seorang kutu buku, agak gemuk, dan lagi pula mengenakan kacamata besar dan tebal.

Namun demikian, Nuriyah adalah produk masyarakat pesantren dan seorang gadis kelahiran Jombang. Karena itu, tidaklah mudah baginya untuk menolak putera KH Wahid Hasyim itu. Bagi Nuriyah, Gus Dur bukanlah sama sekali tanpa daya tarik. Gus Dur menarik perhatiannya karena keintelekan dan juga tujuan hidupnya yang kuat. Hingga pada akhirnya, pada bulan November 1963 Gus Dur berangkat ke Kairo, Mesir, karena mendapatkan beasiswa dari Departemen Agama untuk belajar di Universitas Al-Azhar.

Selama tahun-tahun yang dihabiskan di Kairo, Gus Dur, rutin terus berkorespondensi dengan Nuriyah. Surat-surat gadis ini, yang datangnya secara teratur, ditafsirkannya sebagai tanda bahwa dia tidak sepenuhnya ditolak. Nuriyah pandai berkorespondensi dan setelah lewat beberapa tahun hubungan mereka menjadi lebih dalam daripada sekadar persahabatan ketika mereka di Jombang. Kala itu, Nuriyah sering menolak pemberian buku dari Gus Dur.

Pada awalnya, hubungan Gus Dur dan Nuriyah tidak begitu mulus. Namun, hubungan itu menjadi lebih dalam karena korespondensi yang teratur itu. Menjelang tahun 1966 keduanya merasa yakin bahwa mereka adalah pasangan yang serasi. Atau, lebih tepatnya, Nuriyah menerima Gus Dur sebagai teman hidupnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!