Perang Saudara di Beoga Papua Berakhir, Proses Dijaga Ketat TPNPB-OPM
Senin, 05 April 2021 - 07:01 WIB
"Dalam perdamaian ini, penegakan hukum positif sudah diberlakukan, bahkan ke depan,jika ada lagi terjadi perang,maka proses hukum akan tetap ditegakkan, siapa berani perang atau bunuh orang, maka pelaku akan ditangkap dan diproses, hingga ke pengadilan," kata Bupati, Minggu (4/4/2021).
“Kita mulai menegakan hukum, apalagi kita sudah punya aparat penegak hukum,ada Polres, ada Kodim dan Koramil. Siapa berbuat, dialah yang menanggung akibat hukuman, kasus ini akan menjadi efek jera, tidak boleh lagi main hakim sendiri, adat, atau angkat panah lagi,”tegasnya.
Menurut Bupati misi utamanya adalah, ke sana untuk mendamaikan perang saudara, ternyata sudah ada pasukan TPNPB-OPM disana.
Baca : Tokoh Lintas Agama Papua Keluarkan Pernyataan Sikap Atas Aksi Teroris
"Sehingga kami lakukan koordinasi dengan Kapolres, Danramil Beoga, akhirnya disepakati, saya bersama DPRD saja yang ke lokasi perang, sementara TNI-Polri tidak ke sana, tetap saja di Ibu Kota Distrik, sebab sudah ada TPNPB-OPM, yang sudah mengirim informasi bahwa mereka siap menjaga keamanan Bupati dan siap juga membantu dalam proses perdamaian perang saudara disana,”ujar Bupati Puncak Willem Wandik.
Menurut Bupati, saat sampai di lokasi perang, tim Bupati benar-benar dikawal ketat oleh militer TPNPB OPM,bahkan video dan gambar pun dilarang diambil, karena mereka menggunakan senjata lengkap.
"Kehadiran pasukan TPNPB-OPM, justru ikut menjaga keamanan dan ikut membantu Bupati dan rombongan, dimana mereka ikut mendesak juga dalam proses perdamaian adat kedua kubu yang berperang,sehingga proses perdamaian bisa berjalan dengan cepat. Bahkan mereka ikut menangkap pelaku perang, dan menyerahkan ke Bupati, bahkan proses perdamaian ini,boleh dibilang tercepat dalam sejarah perang saudara di Kabupaten Puncak bahkan di wilayah Pegunungan Tengah, karena berdamai hanya dalam waktu 3 hari," timpalnya.
Biasanya, kata Bupati, kalau perang adat begini, makan waktu yang cukup lama, karena saling balas, namun proses perdamaian kali ini merupakan sejarah, karena tercepat, perang hanya tiga hari,langsung kami turun dengan dukungan TPNPB-OPM mengamankan suasana, akhirnya proses perdamaian secara adat bisa jalan dengan cepat, belah kayu dan patah panah dilaksanakan,kedua belah pihak sudah berdamai berjabat tangan.
“Kita mulai menegakan hukum, apalagi kita sudah punya aparat penegak hukum,ada Polres, ada Kodim dan Koramil. Siapa berbuat, dialah yang menanggung akibat hukuman, kasus ini akan menjadi efek jera, tidak boleh lagi main hakim sendiri, adat, atau angkat panah lagi,”tegasnya.
Menurut Bupati misi utamanya adalah, ke sana untuk mendamaikan perang saudara, ternyata sudah ada pasukan TPNPB-OPM disana.
Baca : Tokoh Lintas Agama Papua Keluarkan Pernyataan Sikap Atas Aksi Teroris
"Sehingga kami lakukan koordinasi dengan Kapolres, Danramil Beoga, akhirnya disepakati, saya bersama DPRD saja yang ke lokasi perang, sementara TNI-Polri tidak ke sana, tetap saja di Ibu Kota Distrik, sebab sudah ada TPNPB-OPM, yang sudah mengirim informasi bahwa mereka siap menjaga keamanan Bupati dan siap juga membantu dalam proses perdamaian perang saudara disana,”ujar Bupati Puncak Willem Wandik.
Menurut Bupati, saat sampai di lokasi perang, tim Bupati benar-benar dikawal ketat oleh militer TPNPB OPM,bahkan video dan gambar pun dilarang diambil, karena mereka menggunakan senjata lengkap.
"Kehadiran pasukan TPNPB-OPM, justru ikut menjaga keamanan dan ikut membantu Bupati dan rombongan, dimana mereka ikut mendesak juga dalam proses perdamaian adat kedua kubu yang berperang,sehingga proses perdamaian bisa berjalan dengan cepat. Bahkan mereka ikut menangkap pelaku perang, dan menyerahkan ke Bupati, bahkan proses perdamaian ini,boleh dibilang tercepat dalam sejarah perang saudara di Kabupaten Puncak bahkan di wilayah Pegunungan Tengah, karena berdamai hanya dalam waktu 3 hari," timpalnya.
Biasanya, kata Bupati, kalau perang adat begini, makan waktu yang cukup lama, karena saling balas, namun proses perdamaian kali ini merupakan sejarah, karena tercepat, perang hanya tiga hari,langsung kami turun dengan dukungan TPNPB-OPM mengamankan suasana, akhirnya proses perdamaian secara adat bisa jalan dengan cepat, belah kayu dan patah panah dilaksanakan,kedua belah pihak sudah berdamai berjabat tangan.
Lihat Juga :