Domba Garut, Seni Ketangkasan Asal Garut yang Turun Temurun

Jum'at, 19 Maret 2021 - 13:03 WIB
Setelah berdirinya Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) istilah “adu” dihilangkan karena dinilai lebih identik dengan perjudian.

Dalam satu pertandingan biasanya terdapat tiga juri, wasit, dan bobotoh (sebutan penonton). Pertandingan juga diiringi lantunan musik yang dimainkan oleh para nayaga.

Domba dibagi menjadi tiga kelas yaitu A, B, dan C. C diperuntukan untuk bobot kurang dari 65kg, B diperuntukan untuk bobot 65kg – 75kg, dan A diperuntukan untuk bobot melebihi 75kg.

Ada beberapa kriteria penilaian dalam ketangkasan domba garut mulai dari kesehatan, adeg-adeg, teknik bertanding, teknik pukulan hingga keberanian

Dikutip dari halaman disparbud.jabarprov.go.id, sejarah domba Garut berawal dari masa pemerintahan Bupati Suryakanta Legawa sekitar tahun 1815-1829. Beliau sering berkunjung ke teman satu perguruannya bernama Haji Saleh yang memiliki banyak Domba.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!