Kisah Ali Sadikin dan Rumitnya Lalu Lintas Jakarta

Minggu, 07 Maret 2021 - 08:57 WIB
“Ketepaaaak!” Tanpa berkata apa-apa lagi, Bang Ali langsung melayangkan tangannya menggampar pipi sopir.

“Kalau bawa muatan berat, apa boleh jalan di tengah?” ujar Bang Ali dengan nada berang. Belum sempat menjawab, si sopir kena tamparan lagi.

“Ketepuuukk!” dua kali tempelengan pun mendarat ke pipi si sopir truk.

“Saudara tidak menghiraukan orang lain. Saudara memalukan ABRI. Saya juga dari ABRI,” kata Ali yang memberikan teguran keras.

“Jadi ABRI jangan sembarangan!” kata Ali lagi sebelum naik lagi ke mobil.

Di dalam mobil, Bang Ali masih dongkol. “Dia pikir karena sudah ABRI boleh semaunya. Bahkan seharusnya sebaliknya. Ia harus memperlihatkan contoh yang baik kepada rakyat,” demikian gerutu Ali.



Kemacetan di Jakarta tempo dulu. Foto: aripitstop.com, Majalah Life

Persoalan Lalu Lintas Tak Ubahnya Gelombang di Lautan

Pengemudi ugal-ugalan seperti itu hanya satu dari sekian banyak persoalan semrawutnya lalu lintas Jakarta era Bang Ali. Kemacetan menambah keruwetan lalu lintas ibu kota. Keadaan semakin parah bila Jakarta diguyur hujan deras yang mengakibatkan jalanan kebanjiran. Mobilitas pun bisa lumpuh.

Ketika baru memimpin Jakarta, Ali Sadikin dihadapkan persoalan lalu lintas yang pelik. Pada 1967, kendaraan bermotor di ibu kota meliputi setengah juta unit. Angka kecelakaan saat itu terbilang tinggi yakni rata-rata dua orang meninggal dan 17 orang menderita luka-luka. Jadi dalam setahun, korban meninggal akibat kecelakaan mencapai 726 orang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!