IABHI: Pandemik Covid-19 Membuat Masyarakat Memperbaharui Perilaku Hidup
Jum'at, 17 April 2020 - 20:02 WIB
Hal ini dikarenakan perilaku memancing alam melakukan keseimbangan baru (homeostatik) yang tak selalu dapat diperkirakan, sehingga mengancam keberlangsungan hidup eksistensi umat manusia dan planet secara keseluruhan. Sehingga, manusia tidak cukup hanya berdamai dengan alam, namun perlu berendah hati untuk memberi kesempatan kepada alam agar dapat memberikan layanan secara optimal pada umat manusia.
Iwan melanjutkan, belajar dan bekerja dari rumah telah menjadi bukti bahwa hunian yang merupakan salah satu tipologi bangunan, merupakan benteng perlindungan hidup keluarga. Hal ini memantapkan pentingnya kualitas bangunan sebagai wahana peradaban hidup yang baru.
"Bila dilihat bangunan sebagai individu, maka kinerja bangunan gedung tidak hanya dituntut untuk hemat dalam mengonsumsi sumber daya, namun dapat secara mandiri memanfaatkan sumber daya baru dan terbarukan, seperti energi terbarukan dan air hasil daur ulang," ujarnya. Dengan kata lain, gedung dituntut menjadi bangunan dengan emisi karbon nihil atau net zero carbon building.
Sementara, bila bangunan dilihat sebagai bagian dari lingkungan binaan, sangatlah penting integrasi antara ruang dalam dan ruang luar yang dapat menjamin kualitas udara sekaligus kenyamanan termal dengan bersikap responsif terhadap iklim tropis di Indonesia. Tentunya, integrasi ini tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dapat menciptakan iklim mikro yang kondusif.
Setiap individu dituntut pemahamannya akan bangunan hijau. Kompetensi ahli GB perlu sekali dijabarkan menjadi kompetensi masyarakat awam sehingga dapat menjadi life skill bagi setiap orang. Untuk itu, perlu penyederhanaan teknis, panduan mempraktikkan prinsip bangunan hijau yang lebih implementatif serta ketrampilan mengukur dengan menggunakan alat-alat ukur terkait kualitas ruang.
Iwan melanjutkan, belajar dan bekerja dari rumah telah menjadi bukti bahwa hunian yang merupakan salah satu tipologi bangunan, merupakan benteng perlindungan hidup keluarga. Hal ini memantapkan pentingnya kualitas bangunan sebagai wahana peradaban hidup yang baru.
"Bila dilihat bangunan sebagai individu, maka kinerja bangunan gedung tidak hanya dituntut untuk hemat dalam mengonsumsi sumber daya, namun dapat secara mandiri memanfaatkan sumber daya baru dan terbarukan, seperti energi terbarukan dan air hasil daur ulang," ujarnya. Dengan kata lain, gedung dituntut menjadi bangunan dengan emisi karbon nihil atau net zero carbon building.
Sementara, bila bangunan dilihat sebagai bagian dari lingkungan binaan, sangatlah penting integrasi antara ruang dalam dan ruang luar yang dapat menjamin kualitas udara sekaligus kenyamanan termal dengan bersikap responsif terhadap iklim tropis di Indonesia. Tentunya, integrasi ini tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dapat menciptakan iklim mikro yang kondusif.
Setiap individu dituntut pemahamannya akan bangunan hijau. Kompetensi ahli GB perlu sekali dijabarkan menjadi kompetensi masyarakat awam sehingga dapat menjadi life skill bagi setiap orang. Untuk itu, perlu penyederhanaan teknis, panduan mempraktikkan prinsip bangunan hijau yang lebih implementatif serta ketrampilan mengukur dengan menggunakan alat-alat ukur terkait kualitas ruang.
Lihat Juga :