Mengkhawatirkan! 3.000 Karyawan Pabrik di Karawang Terpapar COVID-19
Senin, 11 Januari 2021 - 12:56 WIB
ilustrasi
KARAWANG - Pemkab Karawang akan mengambil sanksi tegas terhadap perusahaan industri yang tidak transparan melaporkan kasus COVID-19 di perusahaannya. Kabupaten Karawang mengalami lonjakan kasus COVID-19 setelah terjadi klaster industri. Sedikitnya 3.000 lebih pegawai dari 270 perusahaan industri yang terpapar COVID-19.
"Harusnya setiap perusahaan melaporkan ke satgas COVID-19 jika ditemukan ada karyawannya yang terpapar. Yang terjadi justru mereka terkesan menutupi karyawannya yang terpapar dan tidak melapor. Hal inilah yang membuat terjadinya klaster industri dan semakin tidak terkendali, " kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Karawang, Ahmad Suroto, Senin (11/1/2021).
(Baca juga: Mikrobus Terbalik di Tol Cipali Subang, 1 Warga Kebumen Meninggal )
Menurut Ahmad Suroto, akibat perusahaan industri menutupi kasus COVID-19 di lingkungan perusahaannya, jumlah orang yang terpapar semakin banyak. Satgas COVID-19 kesulitan melakukan tracing terhadap pasien terkonfirmasi positif karena tidak ada laporan. "Baru ketahuan mereka tidak melapor setelah banyak yang terpapar. Ini berbahaya," katanya.
"Harusnya setiap perusahaan melaporkan ke satgas COVID-19 jika ditemukan ada karyawannya yang terpapar. Yang terjadi justru mereka terkesan menutupi karyawannya yang terpapar dan tidak melapor. Hal inilah yang membuat terjadinya klaster industri dan semakin tidak terkendali, " kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Karawang, Ahmad Suroto, Senin (11/1/2021).
(Baca juga: Mikrobus Terbalik di Tol Cipali Subang, 1 Warga Kebumen Meninggal )
Menurut Ahmad Suroto, akibat perusahaan industri menutupi kasus COVID-19 di lingkungan perusahaannya, jumlah orang yang terpapar semakin banyak. Satgas COVID-19 kesulitan melakukan tracing terhadap pasien terkonfirmasi positif karena tidak ada laporan. "Baru ketahuan mereka tidak melapor setelah banyak yang terpapar. Ini berbahaya," katanya.
Lihat Juga :