Kisah Prajurit Raider: Siang Berjibaku Latihan Tempur, Malam Bergelut di Dapur

Minggu, 10 Januari 2021 - 18:01 WIB
“Jujur saja, mendirikan wedangan Omahe Dewe ini untuk mengobati rasa kangen ke orang tua. Jadi untuk merasakan masakannya ga perlu pulang,” ujarnya.

Sisi lain, prajurit Raider yang pernah mengikuti misi perdamaian Unifil di Lebanon pada tahun 2018 ini berharap adanya wedangan Omahe Dewe bisa menjadi jembatan bagi orang-orang berasal dari desa yang tinggal di kota tak harus pulang ke kampung untuk menikmati masakan khas desa.

Sementara, kecintaannya terhadap kuliner sudah muncul sejak dia berada di bangku sekolah, STM Muhammadiyah 1 Wonosari Gunungkudul. Nah selama mengeyam pendidikan di STM, James hidup mandiri dengan indekost. (Baca juga: Jabat Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjen TNI Yogo Janji Pakai Cara Humanis di Papua)

Dari situlah, ia mulai mengenal urusan dapur. Karena harus masak sendiri. “Saya suka masak ya mulai saat kost. Ketika saya sekolah di STM Muhammadiyah Gunungkidul. Banyak lah yang dimasak,” ujarnya yang saat di STM selalu mendapatkan 3 besar ranking kelas 1, 2 dan 3.

Lulus dari STM, pria kelahiran Gunungkidul 22 September 1987 ini kemudian masuk TNI pada tahun 2008 hingga menjadi prajurit Yonif Raider 400/BR. Selama menjadi prajurit raider, selain mengikuti misi perdamaian Unifil di Lebanon, ia juga pernah bertugas di Papua pada tahun 2015 dan 2020.

Dari tempaan di masa sekolah hingga rutinitas latihan fisik di Mako Yonif Raider 400/BR, James secara pelan-pelan mulai menekuni bisnis kuliner dengan mengusung konsep tradisional Jawa, baik menu masakan maupun desain tempat wedangan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!