Perkuat Produksi Lokal, Solusi Atasi Fluktuasi Harga Kedelai

Rabu, 06 Januari 2021 - 15:30 WIB
Sehingga petani lebih memilih menanam padi dan jagung yang dianggap lebih menguntungkan. "Pengrajin tempe dan tahu juga kurang berminat karena kualitas kedelai lokal dianggap rendah. Biji kedelainya kecil dan tidak rata serta kulit ari keras. Sehingga butuh waktu lama dalam proses peragian," tandas Edi.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto mendukung industri benih kedelai lokal yang berhasil mengembangkan benih kedelai kualitas unggul. Sebab, dengan menggerakkan kembali petani kedelai lokal akan mampu mengurai persoalan fluktuasi harga kedelai impor yang berdampak luas kepada pengrajin tahu dan tempe dalam negeri.

"Kami juga akan berupaya menjembatani dengan pemerintah agar budidaya kedelai lokal kualitas unggul ini bisa disebarluaskan ke petani. Dengan begitu, swasembada kedelai nasional bisa tercapai," imbuh Adik. (Baca juga: Sidak ke Pabrik Kedelai, Mabes Polri: Kalau Ada Yang Nimbun dan Mainkan Harga Kita Disikat)

Saat ini, harga kedelai impor di pasaran mencapai Rp9.583 per kilogram (kg), naik dibanding harga saat normal yang hanya sekitar Rp6.800 hingga Rp7.500 per kg. Kondisi ini ditengarai akibat turunnya produksi negara pengekspor seperti Amerika dan tertutupnya jalur distribusi akibat pandemi COVID-19.

(don)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!