Menelisik Gampong Puuk, Pusat Perajin Cobek Gerabah di Kabupaten Pidie

Jum'at, 01 Januari 2021 - 17:12 WIB
Tanah liat terlebih dahulu diinjak-injak dengan kaki, dan dicampur pasir. Setelah siap, tanah liat tersebut diolah menjadi cobek gerabah secara manual. Mereka memproduksi cobek gerabah secara turun-temurun.

(Baca juga: 98 Hari Mengarungi Samudera Indonesia di Tengah Pandemi COVID-19, KRI Bima Suci Pulang )

Marlina, salah satu pelaku perajin gerabah di Gampong Puuk, menyebutkan bahwa dirinya setiap hari bisa mengolah tanah liat secara manual untuk menjadi 100 buah cobek gerabah . "Membuat cobek gerabah , sudah dilakukan secara turun-temurun. Usaha ini masih kami lakukan dan lestarikan untuk memenuhi ekonomi keluarga," ungkapnya.

Hasil produksinya itu diambil langsung oleh agen-agen setiap dua minggu sekali. Marlina mengaku, biasanya agen akan mengambil 200-300 biji cobek gerabah untuk dipasarkan ke pasar-pasar tradisional. Harganya bervariasi Rp3.000-10.000/biji.

Selama pandemi COVID-19, Marlina mengaku permintaan cobek gerabah menurun drastis. "Kalau biasanya permintaannya bisa 200-300 biji, kini sekali ambil hanya 70-100 biji. Akibat pandemi COVID-19, permintaan menurun," tuturnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!