GKJW Maron Blitar, Cerita Gereja Yang Didirikan Pengikut Pangeran Diponegoro
Senin, 28 Desember 2020 - 05:00 WIB
Bangunan gereja itu berada di sisi barat jalan raya Desa Maron. Berada di atas area tanah seluas 7.000 meter persegi, dengan pondasi batu bata setinggi lutut orang dewasa sebagai batas wilayah. Tujuh beringin putih keramat itu sudah tidak ada. Kata Bambang, dulu berjarak sekitar 100 meter dari gereja. Begitu juga dengan 2 bongkahan batu yang berasal dari lahar Gunung Kelud yang membeku. Juga tidak lagi terlihat.
Yang ada hanya deretan pohon kelapa yang berdiri menjulang di belakang gereja. "Letusan Gunung Kelud yang mungkin membuat semuanya terkubur," terang Bambang. Dalam perjalanan waktu berkali kali mengalami renovasi. Hampir seluruh bagian gereja pernah dibenahi.
Kecuali 3 kuda-kuda kerangka bangunan yang sampai kini masih berfungsi dengan baik. Kuda-kuda kayu jati itu berkelir hijau lawas. Pada permukaanya terukir angka tahun pemasangan. Kerangka itu menurut Bambang merupakan satu satunya peninggalan sejarah awal gereja.
Dari berbagai sumber yang diperoleh. Saat pertama berdiri, seluruh bangunan gereja, kata Bambang tersusun atas kerangka kayu. "Letaknya kuda kuda itu di atas, tertutup plafon. Tahun depan rencananya plafon akan kita bongkar, agar bisa terlihat," terang Bambang.
Mengacu laporan surat kabar Belanda yang terbit di masa kolonial, usia gereja Maron saat ini kata Bambang sudah mencapai 174 tahun. Dalam laporan juga dijelaskan, pada tahun 1830 sudah ada orang Kristen di Desa Togogan. Munculnya orang orang Jawa Kristen tersebut berkat perkabaran injil yang dilakukan Kiai Djosep asal Ngoro (Jombang) yang dibantu Mateus Arip.
Saat seorang Belanda bernama Jellesma berkunjung ke Togogan tahun 1849, ada 21 orang warga yang meminta dibaptis masuk Kristen. Jellesma adalah pegawai pemerintah kolonial Belanda yang juga aktif di gereja Mojowarno Jombang. Jellesma juga yang membaptis Kiai Tunggul Wulung pada tahun 1855 dan sekaligus memberinya nama Ibrahim.
Kiai Tunggul Wulung merupakan salah satu tokoh pengabaran injil di Jawa. Meski baru dibaptis tahun 1855, Kiai Tunggul Wulung yang lama mengasingkan diri di sekitar lereng Kelud, sudah mengenal Kristen sejak 1840 di Ngoro dan Mojowarno. Menurut Bambang, sebelum peristiwa 21 orang dibaptis Jellesma, di Togogan sudah ada orang Kristen Jawa.
Mereka adalah empat belas orang bekas laskar Diponegoro yang kemudian hijrah ke Maron sekaligus mendirikan gereja baru tersebut. Sesuai catatan koran Belanda, pada tahun 1858 seluruh orang Kristen di Togogan hijrah ke Desa Maron. Gereja di Togogan dibongkar. Sebagian kayu kayunya dipakai untuk membangun gereja di Maron.
Yang ada hanya deretan pohon kelapa yang berdiri menjulang di belakang gereja. "Letusan Gunung Kelud yang mungkin membuat semuanya terkubur," terang Bambang. Dalam perjalanan waktu berkali kali mengalami renovasi. Hampir seluruh bagian gereja pernah dibenahi.
Kecuali 3 kuda-kuda kerangka bangunan yang sampai kini masih berfungsi dengan baik. Kuda-kuda kayu jati itu berkelir hijau lawas. Pada permukaanya terukir angka tahun pemasangan. Kerangka itu menurut Bambang merupakan satu satunya peninggalan sejarah awal gereja.
Dari berbagai sumber yang diperoleh. Saat pertama berdiri, seluruh bangunan gereja, kata Bambang tersusun atas kerangka kayu. "Letaknya kuda kuda itu di atas, tertutup plafon. Tahun depan rencananya plafon akan kita bongkar, agar bisa terlihat," terang Bambang.
Mengacu laporan surat kabar Belanda yang terbit di masa kolonial, usia gereja Maron saat ini kata Bambang sudah mencapai 174 tahun. Dalam laporan juga dijelaskan, pada tahun 1830 sudah ada orang Kristen di Desa Togogan. Munculnya orang orang Jawa Kristen tersebut berkat perkabaran injil yang dilakukan Kiai Djosep asal Ngoro (Jombang) yang dibantu Mateus Arip.
Saat seorang Belanda bernama Jellesma berkunjung ke Togogan tahun 1849, ada 21 orang warga yang meminta dibaptis masuk Kristen. Jellesma adalah pegawai pemerintah kolonial Belanda yang juga aktif di gereja Mojowarno Jombang. Jellesma juga yang membaptis Kiai Tunggul Wulung pada tahun 1855 dan sekaligus memberinya nama Ibrahim.
Kiai Tunggul Wulung merupakan salah satu tokoh pengabaran injil di Jawa. Meski baru dibaptis tahun 1855, Kiai Tunggul Wulung yang lama mengasingkan diri di sekitar lereng Kelud, sudah mengenal Kristen sejak 1840 di Ngoro dan Mojowarno. Menurut Bambang, sebelum peristiwa 21 orang dibaptis Jellesma, di Togogan sudah ada orang Kristen Jawa.
Mereka adalah empat belas orang bekas laskar Diponegoro yang kemudian hijrah ke Maron sekaligus mendirikan gereja baru tersebut. Sesuai catatan koran Belanda, pada tahun 1858 seluruh orang Kristen di Togogan hijrah ke Desa Maron. Gereja di Togogan dibongkar. Sebagian kayu kayunya dipakai untuk membangun gereja di Maron.
Lihat Juga :