Gereja Kepanjen, Rose Window Berpadu Kaca Mozaik, Pernah Hancur saat Battle of Surabaya
Jum'at, 25 Desember 2020 - 05:00 WIB
Gereja Kepanjen dibangun pada 1899. Awalnya, dua orang pastor dari Belanda datang ke Surabaya. Pastor bernama Hendricus Waander dan Phillipus Wedding pada 12 Juli 1810. Kemudian, Pastor Wedding bertugas ke Batavia, sedangkan Pastor Waanders menetap di Surabaya.
Saat Pastor Waanders menetap di Surabaya, ia sering mengadakan misa untuk umat Katolik. Karenanya, dari hari ke hari, jumlah umat Katolik makin bertambah. Kemudian mereka berencana untuk membangun rumah ibadah berupa gereja dan terealisasi pada 1822.
Arsitektur kawakan Belanda yang bernama W Westmaas mengoreskan karyanya yang mewah dengan pilar tinggi dan pondasi kayu. Besarnya bangunan gereja membuatnya mampu menampung 3.000 jemaat. Kiblat Gereka Kepanjen mempunyai kemiripan dengan Gereja Jean Baptiste Antoine, Lassus, St. Jean Baptiste de Belleville, Paris.
Sebelumnya, sebuah gereja sempat didirikan di daerah Roomsche Kerkstraat atau yang saat ini dikenal dengan Jalan Cendrawasih. Namun, karena adanya rencana pembuatan jalan di Surabaya, gereja ini akhirnya dibongkar, dipindahkan, dan diubah namanya menjadi Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria.
Kemunculan gereja yang besar memang menjadi sebuah bentuk persembahan pada Santa Perawan Maria. Selain sebagai rumah ibadah, gereja ini juga sempat digunakan sebagai rumah sakit darurat dan rumah pastoran yang bertugas waktu itu. Di era penjajahan Belanda, banyak warga yang berjatuhan di tengah gempita perang.
Kubah dan pilar-pilar megah di bagian dalam dan luar gereja menembus jarak ketika mata memandang. Pilar berwarna putih kokoh ini langsung menyambut pada bagian depan gereja. Warna putih pilar bertemu dengan warna merah alami batu bata, semakin memberikan kesan klasik dan elegan pada bangunan ini.
Pada bagian dalam gereja juga terdapat pilar pilar tinggi berlapis warna putih dan keemasan, yang melengkung, membentuk kubah hingga ke bagian langit-langit gereja. Pemandangan yang sangat khas dan memanjakan mata. Menyelimuti imajinasi tentang kemewahan.
Kedipan mata tak akan terlewatkan ketika menyelami gereja ini dengan rose window dan kaca mozaik yang berada di beberapa bagian gereja. Lompatan warna bertarung dalam kemewahan kubah. Rose Window atau jendela berbentuk bundar ini adalah ciri utama dari gaya Neo Gotik serta menegaskan gaya arsitektur Eropa.
Saat Pastor Waanders menetap di Surabaya, ia sering mengadakan misa untuk umat Katolik. Karenanya, dari hari ke hari, jumlah umat Katolik makin bertambah. Kemudian mereka berencana untuk membangun rumah ibadah berupa gereja dan terealisasi pada 1822.
Arsitektur kawakan Belanda yang bernama W Westmaas mengoreskan karyanya yang mewah dengan pilar tinggi dan pondasi kayu. Besarnya bangunan gereja membuatnya mampu menampung 3.000 jemaat. Kiblat Gereka Kepanjen mempunyai kemiripan dengan Gereja Jean Baptiste Antoine, Lassus, St. Jean Baptiste de Belleville, Paris.
Sebelumnya, sebuah gereja sempat didirikan di daerah Roomsche Kerkstraat atau yang saat ini dikenal dengan Jalan Cendrawasih. Namun, karena adanya rencana pembuatan jalan di Surabaya, gereja ini akhirnya dibongkar, dipindahkan, dan diubah namanya menjadi Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria.
Kemunculan gereja yang besar memang menjadi sebuah bentuk persembahan pada Santa Perawan Maria. Selain sebagai rumah ibadah, gereja ini juga sempat digunakan sebagai rumah sakit darurat dan rumah pastoran yang bertugas waktu itu. Di era penjajahan Belanda, banyak warga yang berjatuhan di tengah gempita perang.
Kubah dan pilar-pilar megah di bagian dalam dan luar gereja menembus jarak ketika mata memandang. Pilar berwarna putih kokoh ini langsung menyambut pada bagian depan gereja. Warna putih pilar bertemu dengan warna merah alami batu bata, semakin memberikan kesan klasik dan elegan pada bangunan ini.
Pada bagian dalam gereja juga terdapat pilar pilar tinggi berlapis warna putih dan keemasan, yang melengkung, membentuk kubah hingga ke bagian langit-langit gereja. Pemandangan yang sangat khas dan memanjakan mata. Menyelimuti imajinasi tentang kemewahan.
Kedipan mata tak akan terlewatkan ketika menyelami gereja ini dengan rose window dan kaca mozaik yang berada di beberapa bagian gereja. Lompatan warna bertarung dalam kemewahan kubah. Rose Window atau jendela berbentuk bundar ini adalah ciri utama dari gaya Neo Gotik serta menegaskan gaya arsitektur Eropa.
Lihat Juga :