Sepakat Perang Terhadap Radikalisme, Saling Serang Soal Tol Tengah Kota
Sabtu, 05 Desember 2020 - 21:50 WIB
Debat pamungkas Pilkada Surabaya menyajikan berbagai visi misi baru terkait tol tengah kota dan isu kesehatan.
SURABAYA - Debat pamungkas Pilkada Surabaya berjalan antiklimaks. Belum ada hal baru yang dijadikan bahan perdebatan. Kedua pasangan calon (paslon) masih saling serang terkait layanan kesehatan serta pertumbuhan ekonomi.
Dalam debat pamungkas itu, kedua paslon Eri Cahyadi-Armuji (ERJI) maupun Machfud Arifin-Mujiaman (MAJU) bersepakat untuk perang tanpa henti dalam melawan radikalisme. Kedua paslon menegaskan diri NKRI harga mati untuk bisa menjaga keutuhan masyarakat.
Eri Cahyadi menuturkan, secara umum radikalisme harus bisa dilawan. Semua pihak bisa berkoordinasi dengan pesantren, gereja maupun berbagai tokoh lainnya. Dirinya memastikan kehadiran negara untuk mempersempit ruang gerak radikalisme.
(Baca juga: Ramai-ramai Tolak Surat Risma, Warga: Maaf Pilihan Kita Berbed a)
“Ada para kiai, romo, remaja masjid dan pemuda gereja. Wadah ini yang akan memerangi. Kami memastikan tidak ada lagi minorotas dan mayoritas. Mereka semua harus merasa nyaman di Surabaya dan di mana saja,” kata Eri, Sabtu (5/12/2020).
Sementara itu, Machfud Arifin juga tak ingin radikalisme masuk ke Surabaya. Dirinya lebih memilih melakukan upaya pembinaan. Termasuk koordinasi dengan aparat keamanan, baik itu kepolisian maupun yang lainnya. “Untuk terjadinya radikalisme, awalnya tertekan dan tidak bisa disalurkan. Dengan komunikasi yang baik, maka kebutuhan mereka bisa kita penuhi,” katanya.
Dalam debat pamungkas itu, kedua paslon Eri Cahyadi-Armuji (ERJI) maupun Machfud Arifin-Mujiaman (MAJU) bersepakat untuk perang tanpa henti dalam melawan radikalisme. Kedua paslon menegaskan diri NKRI harga mati untuk bisa menjaga keutuhan masyarakat.
Eri Cahyadi menuturkan, secara umum radikalisme harus bisa dilawan. Semua pihak bisa berkoordinasi dengan pesantren, gereja maupun berbagai tokoh lainnya. Dirinya memastikan kehadiran negara untuk mempersempit ruang gerak radikalisme.
(Baca juga: Ramai-ramai Tolak Surat Risma, Warga: Maaf Pilihan Kita Berbed a)
“Ada para kiai, romo, remaja masjid dan pemuda gereja. Wadah ini yang akan memerangi. Kami memastikan tidak ada lagi minorotas dan mayoritas. Mereka semua harus merasa nyaman di Surabaya dan di mana saja,” kata Eri, Sabtu (5/12/2020).
Sementara itu, Machfud Arifin juga tak ingin radikalisme masuk ke Surabaya. Dirinya lebih memilih melakukan upaya pembinaan. Termasuk koordinasi dengan aparat keamanan, baik itu kepolisian maupun yang lainnya. “Untuk terjadinya radikalisme, awalnya tertekan dan tidak bisa disalurkan. Dengan komunikasi yang baik, maka kebutuhan mereka bisa kita penuhi,” katanya.
Lihat Juga :