Cerita Masyhur Jalan Braga dan Noni-noni Cantik yang Melegenda

Senin, 26 Oktober 2020 - 05:00 WIB


Di Jalan Braga, juga dikenal dengan toko-tokonya yang menjual barang-barang eksklusif yang khusus didatangkan dari Eropa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Eropa yang tinggal di Bandung dan sekitarnya. Kemudian pada dasawarsa 1920-1930-an, bermunculan pula toko-toko dan butik (boutique) pakaian yang mengambil model di Kota Paris, Prancis yang saat itu merupakan kiblat model pakaian di dunia.

Dibangunnya gedung Societeit Concordia yang digunakan untuk pertemuan, khususnya bagi kalangan tuan-tuan hartawan, Hotel Savoy Homann, gedung perkantoran, dan lain-lain di beberapa blok di sekitarnya membuat Jalan Braga semakin ramai dan masyhur.

Perkembangannya yang sangat pesat menjadikan Jalan Braga sebagai kawasan komersial paling bergengsi, tempat di mana para preanger planters dan masyarakat Eropa berrekreasi, berjalan-jalan, berbelanja atau sekedar menikmati suasana sambil minum dan makan di Maison Bogerijn (sekarang Braga Permai) dan kafe-kafe yang terdapat di jalan tersebut.

Di balik kemasyhurannya, kawasan Jalan Braga nyatanya menyimpan cerita kelam. Cerita diawali sebuah kegiatan kongres Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula (Bestuur van de Vereniging van Suikerplanters) yang berpusat di Surabaya, pada 1896 saat Bandung mulai dikembangkan sebagai kota.

Meneer Jacob, seorang panitia kongres mendapat masukan dari Meneer Schenk, seorang tuan perkebunan (onderneming) di Priangan untuk memeriahkan dan menghangatkan suhu dingin pegunungan serta suasana pertemuan waktu itu mengingat fasilitas yang tersedia di Bandung belum memadai.

Maka, didatangkanlah noni-noni cantik yang berasal dari kawasan Perkebunan Pasir Malang. Letak Perkebunan Pasir Malang sendiri tak jauh dari perkebunan Malabar di daerah Pangalengan atau kurang lebih 50 kilometer ke arah Selatan dari Kota Bandung saat ini. Plang perkebunan Pasir Malang dapat ditemui tak jauh dari Situ Cileunca ke arah perkebunan teh Cukul, tepatnya di Desa Wates.

Kehadiran rombongan noni-noni cantik bunga desa yang turun gunung ke kota itu membuat seluruh peserta kongres senang. Pemimpin rombongan noni cantik itu tak lain adalah Meneer Schenk sendiri yang juga berasal dari Pasir Malang. Meneer Schenk merupakan salah satu pemilik perkebunan paling awal di sekitar Bandung.

Singkat kata, kongres itu pun sukses besar. Bagi pengusaha perkebunan gula yang banyak datang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, kongres itu sangat berkesan. Usai kongres, para peserta pun lantas menebarkan istilah "De Bloem der Indische Bergsteden" atau "Bandung Kota Kembang".

Namun begitu, julukan Kota Kembang oleh pengusaha perkebunan yang puas atas pelayanan selama kongres itu lebih mengarah pada servis yang diberikan oleh noni-noni cantik itu. Jadi istilah Kota Kembang disini mengacu pada gadis-gadisnya yang rupawan, bukan kembang atau bunga dalam artian sebenarnya.

"Setelah kongres selesai digelar, noni-noni cantik itu tidak lantas pulang ke kampung halamannya, tapi tinggal menetap di kawasan Jalan Braga, khususnya di kawasan Jalan Kejaksaan saat ini," ujar Ridwan Hutagalung, pendiri komunitas Aleut yang konsisten dengan sejarah Bumi Priangan.

Ridwan yang juga menjadikan buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe sebagai acuan utamanya itu juga mengungkapkan bahwa pascakongres digelar, noni-noni cantik itu tinggal dan membuka layanan prostitusi hingga menjadikan Jalan Kejaksaan terkenal dengan sebutan Bordeelweg atau Jalan Bordil.

Semakin pesatnya perkembangan di kawasan Jalan Braga pun menjadikan julukan Bandung Kota Kembang makin melekat kuat. Keramaian di kawasan itu kemudian memicu hadirnya tempat-tempat hiburan malam dan kawasan remang-remang yang dipenuhi noni-noni cantik.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!