Ridwan Kamil Masuk Jateng, Garap UMKM Bareng Milenial
Minggu, 25 Oktober 2020 - 22:46 WIB
“Ada industri-industri kreatif di Jawa Barat itu sudah saya bantu promosi dan mendesain. Ternyata diminati juga, dukungan saya ini ke mereka sebagian di Jawa Tengah untuk dibantu desainnya, karena saya kan punya keahlian mendesain. Ada masjid saya desain di Banyumas. Kemudian ada produk kulit apa ya silakan selama skill saya bermanfaat tentulah saya tidak bisa menolak,” terangnya.
“Sejarahnya ada industri kecil sepatu saya pakai viral. Karena saya berikan desain ini, bikin yang lain pengen ikutan. Nah mudah-mudahan ilmu saya ini bermanfaat,” lugasnya.
Meski secara administratif dia hanya memimpin wilayah Jawa Barat, namun timbul keinginan ikut mengembangkan banyak pelaku UMKM. Apalagi Ridwan Kamil juga tercatat sebagai Majelis Pertimbangan Karang Taruna (MPKT).
“Hidup bermanfaat tidak harus dibatasi oleh batas wilayah politik administrasi, yang penting itu bermanfaat. Saya ini Majelis Pertimbangan Karang Taruna nasional. Karang Taruna itu organisasi yang sampai di tingkat desa. Jadi saya memotivasi Karang Taruna di Jawa Tengah,” jelas dia.
Seorang perajin tenun asal Pekalongan , Asyfa Fuadi, mengatakan, pandemi COVID-19 mengakibatkan usaha yang dilakoni sejak 2012 menjadi limbung. Produk tenun yang telah jadi, hanya menumpuk tanpa bisa dijual karena lesunya pasar.
“Sejarahnya ada industri kecil sepatu saya pakai viral. Karena saya berikan desain ini, bikin yang lain pengen ikutan. Nah mudah-mudahan ilmu saya ini bermanfaat,” lugasnya.
Meski secara administratif dia hanya memimpin wilayah Jawa Barat, namun timbul keinginan ikut mengembangkan banyak pelaku UMKM. Apalagi Ridwan Kamil juga tercatat sebagai Majelis Pertimbangan Karang Taruna (MPKT).
“Hidup bermanfaat tidak harus dibatasi oleh batas wilayah politik administrasi, yang penting itu bermanfaat. Saya ini Majelis Pertimbangan Karang Taruna nasional. Karang Taruna itu organisasi yang sampai di tingkat desa. Jadi saya memotivasi Karang Taruna di Jawa Tengah,” jelas dia.
Seorang perajin tenun asal Pekalongan , Asyfa Fuadi, mengatakan, pandemi COVID-19 mengakibatkan usaha yang dilakoni sejak 2012 menjadi limbung. Produk tenun yang telah jadi, hanya menumpuk tanpa bisa dijual karena lesunya pasar.
Lihat Juga :